Andaikata Lebih Panjang Lagi……Andaikata Yang Masih Baru..…. Andaikata Semuanya…….”

November 23, 2009 at 4:15 am 6 komentar

Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.

Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama’ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai.

Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.

Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.

Kemudian Rosulullah berkata,” Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”

Istrinya menjawab, “Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”

“Apa yang di katakannya?”

“Saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”

“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.

Istri yang setia itu menjawab, suami saya mengatakan
“Andaikata lebih panjang lagi……andaikata yang masih baru..…. andaikata semuanya…….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”

Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.

Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.

Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.

Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik.

Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.

Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.

Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu.

Dengan sabar Nabi menjelaskan,”Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.

Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.
Sahabat Hikmah, orang yang BERAMAL BAIK saja dia MENYESAL di AKHIR HAYATNYA, bagaimanakah dengan orang yang selama hidupnya BERAMAL BURUK?

Allah berfirman:
“Jika kamu BERBUAT BAIK (berarti) kamu berbuat baik BAGI DIRIMU SENDIRI i dan jika kamu BERBUAT JAHAT, Maka (kejahatan) itu BAGI DIRIMU SENDIRIi”. (Al-Isra:7)

Wassalam

Entry filed under: Kisah Sahabat, Mutiara Hikmah. Tags: , , , .

Habib Ali Alhabsyi, Ulama, Pejuang, dan Pendidik dari Betawi

6 Komentar Add your own

  • 1. Rozy  |  Desember 2, 2009 pukul 1:21 am

    Allahummaj’alna min ahlil khoir..
    Allahummaj’alna minattawwabin waj’alna minal mutathohiriin waj’alna min ‘ibaadikashshoolihiin..

    washollallaahu ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aalihi washohbihi wasallam..walhamdulillaahi robbil ‘aalamiin

    Balas
  • 2. Nur  |  Desember 21, 2009 pukul 12:03 pm

    Salam,

    Saya mohon copy doa-doa yang di tepi side bar, diletakkan di blog saya ya? A very good blog, keep on writing!

    Balas
  • 3. syariftambakoso  |  Februari 20, 2010 pukul 4:02 pm

    tak satupun dalil yang secara syar’i yg penulis tunjukkan bahwa maulid adalah tradisi Islam. Adapun banyak ulama yg menulis masalah maulid bukanlah dalil tentang ini tradisi dari generasi awal umat Islam. Sama juga dengan banyaknya ulama yg menentang peringatan maulid juga bukanlah dalil.Dan tak satupun dari ulama2 yg pro maulid yg bisa menunjukkandalil syar’i bahwa ini tradisi Islam. Sementara yg kontra bisa menunjukkan dalil. Secara leksikal adakah perbedaan tradisi natal dg maulid? Kalau mencintai Rosululloh Saw. kenapa membikin acara baru, apakah tidak ridha dg apa yg ada sisi Nabi Muhammad Saw. Apakah ajaran Nabi Saw tidak lengkap?Ini adalah tradisi Syiah yg berusaha melanggengkan dominasi kasta ‘ulama/sayyid’ dalam hirarki rahbaniyyah yg dilarang oleh Nabi Saw. Karena rahbaniyyah/kependetaan hanya jihad fi sabilillah! Dan anehnya ulama sunni banyak meniru-niru dengan melanggengkan pelembagaan ulama dalam hirarki masyarakat, sebut saja kata ‘Habib’. Dan dominasi ini yg jelas keluar dari kaidah ahlussunnah, karena tradisi penamaan ulama ahlussunnah berasal dari keilmuan. bukan trah/keturunan atau pelembagaan. Imam Ahmad, Syafi’i, Hanafi, Malik disebut Imam kaum Muslimin tak satupun didasarkan atas keturunan tapi keilmuan.Dan warisan mereka adalah mazhab (kaidah keilmuan) bukan trah. Dan untuk menyempurnakan eksploitasi Ahlul Bait Nabi Saw, tradisi syiah/maulid dilanggengkan dengan dalih cinta Rosul. Allahu’alam! Tegak Syariat Islam dengan resiko apapun, karena kita ini umat Muhammad Saw, please dont just saying love to Pophet Muhammad Saw.

    Balas
  • 4. hearthuman  |  Juni 7, 2010 pukul 10:29 am

    allahumma sholi wasalim wabarik’alaih

    Balas
  • 5. Adi Sucipto  |  Desember 11, 2010 pukul 3:53 am

    Hmmm, rupanya kang Rozy ada di sini

    Balas
  • 6. Nur Asik Mahmuddin  |  Oktober 22, 2011 pukul 2:47 am

    SAYA SENANG MEMBACANYA SEMOGA JADI VITAMIN BAGI SIAPA SAJA YANG MEMBACANYA

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Asmaul Husna


Ayat – Ayat Al Qur’an

Doa – Doa

 

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“Wahai Rabbku, berikanlah taufik bagiku untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk menunaikan amal shalih yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan pada keturunanku.” (Q.S. Al-Ahqaf:15)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

“Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan seluruh orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Q.S. Ibrahim:40-41)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S Al-Furqan:74)

Kategori

Jadwal Sholat

Sponsor

Blog Stats

  • 73,519 hits

Feeds


%d blogger menyukai ini: