Maulid dalam Goresan Pena Ulama

Agustus 21, 2009 at 5:38 pm 3 komentar

Selain dengan menghayati sunnah Baginda Nabi Muhammad SAW, sudah menjadi kelaziman di dunia Islam dalam menyambut hari kelahiran beliau dengan membaca kisah perjalanan hidup Rasulullah SAW yang terkandung dalam kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama. Diantara kitab termasyhur yang menceritakan sejarah hidup beliau dari mulai detik-detik kelahiran hingga wafatnya, adalah kitab yang ditulis oleh Sayyid Ja’far Al Barzanji, Syaikh Muhammad Al Azab, Imam Wajihuddin Abdur Rahman bin Muhammad Ad Dibai’, Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, dll.

Masyarakat kita menamakan karya-karya tersebut sebagai kitab Maulid. Hingga kini berbagai kitab Maulid tersebar luas di berbagai pelosok dunia islam, tak terkecuali di negeri kita. Di masing-masing daerah ada kitab Maulid yang lebih dikenal atau lebih banyak dibaca dibandingkan dengan yang lainnya. Karena selalu digunakan, kitab-kitab itupun terus dicetak ulang dan tetap diminati orang. Ada yang tersendiri, satu kitab terdiri dari satu kisah Maulid, tapi adapula kitab yang berisi kumpulan beberapa kisah Maulid.

Kitab-kitab tersebut dibaca oleh masyarakat Islam dalam majelis-majelis tertentu, terutama dalam bulan Maulid Nabi. Sesungguhnya kitab-kitab tersebut ditulis dengan penuh keikhlasan oelh penulisnya. Tujuan mereka semata-mata untuk mengabadikan sejarah kehidupan Rasulullah SAW untuk generasi yang akan datang, agar Beliau terus dikenal, dicintai dan diteladani oleh ummatnya.

Karenanya, karya tulis mereka itu diterima dan diberkahi Allah SWT. Salah satu tanda bahwa suatu amalan diterima oleh Allah adalah, ia kekal di hati masyarakat. Begitulah kitab Al Barzanji, Ad Dibai’, Al Azab, Al Habsyi dan lain-lain, terus mendapat sambutan umat Islam dari masa ke masa. Bukan saja di kawasan Nusantara, melainkan juga hampir diseluruh dunia. Tradisi membaca kitab Maulid kemudian tidak hanya berlaku di majelis peringatan Maulid atau pada bulan Maulid, melainkan juga pada bulan-bulan lain dan dalam berbagai kesempatan.

Di dalam Musnadnya, Imam Ahmad menyebutkan sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud (yang diterima melalui perawi-perwai yang terpercaya), “Apa-apa yang dianggap haq (benar) oleh sebagian besar umat Islam, itulah yang diridhai Allah, dan apa-apa yang dianggap batil (salah) oleh sebagian besar umat Islam, ia batil (salah) disisi Allah.”

Ulama Penyusun Kitab Maulid

Terlalu banyak ulama yang menulis kitab-kitab yang berkenaan dengan Maulid, yang ditulis dama berbagai bentuk penulisan, baik prosa maupun puisi. Ada yang singkat, sedang dan adapula yang panjang lebar. Menurut Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitabnya Hawl Al Ihtifal bi Dzikr Al Mawlid an Nabawiy As Syarif, karena banyaknya ulama yang menulis itu, sulit untuk merincinya. Meskipun demikian, kata beliau selanjutnya, sebagian kitab itu memang lebih utama dibandingkan yang lain.

Berikut ini akan disebutkan sebagian saja dari mereka, terutama para huffaz al hadits (para penghafal hadits) dan imam-imam terkemuka. Meskipun hanya sebagian kecil dari seluruh ulama yang telah menulis tentang tema ini, sesungguhnya itu cukup menjadi petunjuk akal pikiran umat Islam akan keutamaan dan kemulian Maulid Nabi.

Iniliah nama-nama yang disbutkan oleh Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dalam kitabnya itu :

1. Al Imam Al Muhaddits Al Hafizh Abdurrahman bin Ali, yang terkenal dengan sebutan Al Faraj Ibnul Jauzi (wafat tahun 597 H), dengan kitab Maulidnya yang masyhur yang dinamakan Al ‘Arus. Kitab ini telah dicetak di Mesir berulang kali.

2. Al Imam Al Muhaddits Al Musnid Al Hafizh Abu Al Khaththab Umar bin Ali bin Muhammad, yang terkenal dengan sebutan Ibn Dahyan Al Kalbi (wafat tahun 633 H). Beliau mengarang satu kitab Maulid dengan tahqiq (editan) yang amat berfaedah, yang dinamakan At Tanwir Fi Maulid Al Basyir an Nadzir.

3. Al Imam Syaikh Al Qurra wa Imam Al Qiraat Al Hafizh Al Muhaddits Al Musnid Al Jami’ Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdullah Al Juzuri As Syafi’i (wafat tahun 660 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk manuskrip berjudul Urf At Ta’rif bi Al Maulid As Syarif.

4. Al Imam Al Mufti Al Muarrikh Al Muhaddits Al Hafizh Imaduddin Imail bin Umar bin Katsir, penyusun tafsir dan kitab sejarah yang terkenal (wafat tahun 774 H). Ibnu Katsir telah menyusun satu kitab Maulid Nabi yang telah diterbitkan dan di tahqiq oleh Dr. Shalahuddin Al Munjid, kemudian kitab Maulid ini disyarahkan oleh Al Allamah Al Faqih As Sayyid Muhammad bin Salim Al Hafidz, mufti Tarim, dan diberi syarah pula oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki, dan telah diterbitkan di Syria tahun 1387 H.

5. Al Imam Al Kabir wa Al Alim As Syahir Hafizh Al Islam wa Umdah Al Anam wa Marja’ Al Muhadditsin Al ‘Alam Al Hafizh Abdur Rahim bin Abdur Rahman Al Mishri, yang terkenal dngan Al Hafizh Al Iraqi (725-808 H). Maulidnya yang mulia dinamakan Al Maurid Al Hana yang telah disebutkan oleh banyak hafizh seperti Ibn Fahd dan As Suyuthi.

6. Al Imam Al Muahddits Al Hafizh Muhammad bin Abi Bakar bin Abdillah Al Qisi Ad Dimasyqi As Safi’i, yang terkenal dengan sebutan Al Hafizh bin Nashiruddin Ad Dimasyqi (777-842H ). Beliau adalah ulama yang terkenal dalam membela Ibn Taymiyah, bahkan menulis kitab dalam menjawab berbagai tuduhan atas Ibn Taymiyah, Beliau telah menulis beberapa kitab Maulid, diantaranya Jami’ Al Atsar fi Maulid An Nabiy Al Mukhtar dalam 3 Jilid, Al Lafzh Ar Raiq fi Maulid Khair Al Khaliq berbentuk ringkasan, Maurid Ash Shadiy fi Maulid Al Hadi.

7. Al Imam Al Urraikh Al Kabir wa Al Hafizh Asy Syahir Muhammad bin Abdur Rahman Al Qahiri, yang terkenal dengan sebutan Al Hafizh As Sakhawi (831-902 H), yang mengarang kitab Adh-Dhau’ Al Lami’ dan kitab-kitab lain. Kitab Maulid yang disusunnya adalah Al Fakhr Al ‘Alawi fi Maulid An Nabawi. Itu beliau sebutkan dalam kitabnya yang lain, Adh-Dhaul Lami’ (juz 8, hlm.18).

8. Al Allamah Al Faqih As Sayyid Ali Zainal Abidin As Samhudi Al Hasani, pakar sejarah dari Madinah Al Munawwarah (wafat tahun 911 H). Kitab Maulidnya yang ringkas dinamakan Al Mawarid Al Haniyyah fi Maulid Khair Al Bariyyah. Kitab ini ditulis dengan khat nasakah (salah satu gaya tulisan arab) yang cantik san bias didapat di perpustakaan-perpustakaan di Madinah, Mesir dan Turki.

9. Al Hafizh Wajihuddin Abdur Rahman bin Ali bin Muhammad Asy Syaibani Al Yamani Az Zabidi Asy Syafi’i, yang terkenal dngan sebutan Ad Dibai’. Beliau yang lahir pada bulan Muharram 866 H dan meninggal dunia pada hari Jum’at 12 Rajab 944 H, adalah salah seorang Imam di zamannya dan termasuk ulama puncak di kalangan ahli hadits. Beliau telah membaca Shahih Bukhari lebih dari seratus kali, dan pernah membacanya sekali dalam waktu enam hari.
Beliau telah menyusun maulid yang amat termasyhur dan dibaca diseluruh dunia, yakni Maulid Ad Dibai’. Maulid ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki.

10. Al Allamah Al Faqih Al Hujjah Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al Haitami (wafat tahun 974 H). Beliau adalah mufti mazhab Syafi’i di Mekkah Al Mukarromah. Beliau telah mengarang kitab Maulid yang sederhana (71 pasal) dengan tulisan khat nasakh yang jelas, bias didapat di Mesir dan Turki. Beliau memberinya judul Itmam An Ni’mah ‘Ala Al ‘Alam bi Maulid Sayyidi Waladi Adam.
Selain itu beliau juga menulis lagi satu kitab Maulid yang ringkas yang telah diterbitkan di Mesir dengan nama An Ni’mah Al Kubra ‘Ala Al ‘Alam fi Maulid Sayyidi Waladi Adam. As Syaikh Ibrahim Al Bajuri telah mensyarahnya dan dinamakan Tuhfah al Basyar ‘Ala Maulid Ibn Hajar.

11. Al ‘Allamah Al Faqih Asy Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy Syarbini Al Khatib (wafat tahun 977 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk manuskrip sebanyak 50 halaman dengan tulisan yang kecil tetapi tetap dapat dibaca.

12. Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Musnid Al Faqih Asy Syaikh Nuruddin Ali bin Sultan Al Harawi, yang terkenal dengan sebutan Al Mula Ali Al Qari (wafat tahun 1014 H), yang mensyarah kitab Al Misykat. Beliau juga mengarang kitab Maulid dengan judul Al Maulid Ar Rawi fi Al Maulid An Nabawi. Kitab ini juga telah ditahqiq dan diberi syarah oleh Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki dan dicetak di Mathba’ah As Sa’adah Mesir tahun 1400 H/1980 M.

13. Al ‘Allamah Al Muhaddits Al Musnid As Sayyid Ja’far bin Hasan bin Adul Karim Al Barzanji, mufti mazhab Syafi’I di Madinah Al Munawwarah, ada perbedaan mengenai tahun wafatnya, 1177 H atau 1184 H. Beliau adalah penyusun Maulid yang sangat termasyhur, yakni Maulid Al Barzanji. Sebagian ulama menyatakan judul sebenarnya kitab ini ialah ‘Iqd Al Jauhar fi Maulid An Nabiy Al Azhar.
Ini merupakan Maulid yang paling luas tersebar dinegara-negara Arab dan Negara-negara muslim lainnya, di timur dan abarat. Malah dihafal dan dibaca oleh orang-orang Arab dan ‘Ajam pada pertemuan-pertemuan mereka.

14. Al ‘Allamah Abu Al Barakat Ahmad bin Muhammad bi Ahmad Al ‘Adawi yang terkenal dengan sebutan Ad Dardir (wafat tahun 1201 H). Kitab Maulidnya yang ringkas telah dicetak di Mesir dan terdapat syarah yang luas terhadapnya oleh Syaikhul Islam di Mesir, Al Allamah As Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Ahmad Al Baijuri atau Al Bajuri (wafat tahun 1277 H).

15. Al ‘Allamah As Syaikh Abdul Hadi Naja Al Abyari Al Mishri (wafat tahun 1305 H). Beliau mengarang kitab Maulid yang ringkas, masih dalam bentuk manuskrip.

16. Al Imam Al ‘Arif Billah Al Muhaddits Al Musnid As Sayyid As Syarif Muhammad bin Ja’far Al Kattani Al Hasani (wafat tahun 1345 h). Kitab Maulidnya, berjudul Al Yumn wa Al Is’ad bi Maulid Khair Al ‘Ibad dalam 60 halaman, telah diterbitkan di Maghribi pada tahun 1345 H.

17. Al ‘Allamah Al Muhaqqiq Asy Syaikh Yusuf An Nabhani (wafat tahun 1350 H). Kitab Maulidnya dalam bentuk susunan bait dinamakan Jawahir An Nazhm Al Badi’ fi Maulid As Syafi’I, diterbitkan di Beirut berulang kali.

Disamping nama-nama ulama di atas, seorang ulama besar, yaitu Al Imam Al ‘Allamah Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi, juga menyusun sebuah kitab Maulid yang berjudul Simthud Durar. Saat ini ktab Maulid sangat populer di tengah-tengah masyarakat Indonesia pada umumnya disamping kitab Maulid Al Barzanji, yang memeng jauh lebih dulu tersebar di pelosok Nusantara.

Di Era sekarang inipun, Al ‘Allamah Al Habib Umar bin Hafidz juga telah menambah khzanah kepustakaan kitab Maulid Nabi dengan menuliskan sebuah kitab Maulid yang diberinya judul Ad-Dhiya’ Al Lami’.

Sumber : Majalah Alkisah No.07/Tahun VI

Entry filed under: Maulid, Sejarah. Tags: , .

Al Habib Umar bin Hafidz Doa Tawassul kepada Nabi Muhammad SAW

3 Komentar Add your own

  • 1. Abdurrhman Al wani  |  September 17, 2010 pukul 3:00 pm

    Apakah Perayaan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu “alaihi wasallam pernah dan selalu dilaksanakan oleh Rasulullah serta para sahabatnya ? ataukah kegiatan tersebut termasuk perkara baru yabg diada – adakanAllah Ta’ala berfirman:
    اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمُ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لِكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا
    “Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu” ( Qs al-Maidah : 3 )
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
    أَيُّهَا الْنَّاس إِنَهُ لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِبُّكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدْكُمْ مِنَ الْنَّارِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ , وَإِنَهُ لَيْسَ شَيْءٍ يُقَرِبُكُمْ مِنْ الْنَّارِ وَيُبَاعِدْكُمْ عَنِ الْجَنَّةِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
    “Wahai manusia!, tidak ada satupun yang mendekatkan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Dan tidak ada satupun yang mendekatkan kalian kepada neraka dan menjauhkan kalian dari surga melainkan telah aku larang kalian daripadanya.” Diriwayatkan oleh Al Baghawi (Syarhus Sunnah 14/303-305),
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda ; “Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
    من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
    “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan ( tuntunan syari’at ) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim, Ahmad)
    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
    ” Sebaik – baik umatku adalah yang se zaman denganku , kemudian mereka yang datang setelahnya ”. ( HR Bukhari – Muslim )
    ” Bagi kamu sunnahku dan sunnah para ( sahabatku ) Khulafa ’ur-Rasyidin ” ( HR . Abu Daud Tirmidzi ).

    Dari Abdullah bin Mas’ud r.a beliau berkata : ” Ikutilah jejak – jejak kami , janganlah kalian membuat sesuatu yang baru ( ” amalan baru” ) , karena kalian telah tercukupi dalam agama kalian ( dengan mengikuti jejak kami itu ). ( Al-Lalika’i 1/86 ).
    Maka apapun yang pada saat itu bukan ajaran agama (yaitu amalan-amalan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dilakukan oleh beliau dan para sahabatnya ), maka pada hari ini ia juga bukan bagian dari
    mengukur baik dan buruk perbuatan
    bukannya dengan akal fikiran , tetapi dengan timbangan syari’at Allah dan Rasul – Nya
    ” . . . Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. ( Q S . 2 : 216 )
    Kebanyakan mereka hanya mengikuti prasangka ( prasangka baik dan prasangka benar )
    “. . . Dan kebanyakan mereka tidaklah mengikuti kecuali prasangka saja., Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna mencapai kebenaran . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan ” ( QS .10 : 36 )
    Hudzaifah ra , ia berkata :
    ” Setiap ibadah yang tidak ditetapkan sebagai ibadah oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , maka jangan lah kamu menetapkannya sebagai ibadah , sebab yang awal tidak meninggalkan suatu perkataanpun pada yang akhir . Maka dari itu takutlah kamu kepada Allah dan ambillah jalan orang – orang sebelum kamu „
    Ibnu Umar ra berkata :
    “ Setiap „Amalan baru“ Adalah sesat , meskipun ” Amalan baru ” itu dianggap baik oleh orang banyak ”.
    Abdullah ibnu umar ra juga berkata :
    ” Wahai sekalian manusia , kamu akan menciptakan sesuatu yang baru dan juga akan diciptakan / diada-adakan untukmu sesuatu yang baru . Maka jika melihat sesuatu yang tidak dikenal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah , maka tetaplah kamu dan jangan berpisah dengan perkara yang pertama ”

    Balas
  • 2. Abdurrhman Al wani  |  September 17, 2010 pukul 3:10 pm

    بسم الله الرحمن الرحيم
    السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
    الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله
    وبعد
    Allah Subhanallahuata’ala berfirman :

    “ Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasai nya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. “ ( Q S . An Nisa : 115 )
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :
    قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى البَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَاِلكٌ
    “Sungguh, aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyimpang daripadanya sepeninggalku kecuali orang yang celaka.”
    ( Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1/16), Ahmad (4/126), Al Hakim (1/175), Ath Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (18/247), dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam takhrij As Sunnah karya Ibnu Abi ‘Ashim (hal 19) dari hadits ‘Irbadl bin Sariyah radliyallahu ‘anhu. )
    Kesempurnaan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam
    Allah SWT dan Rasul-Nya menegaskan bahwa ajaran agama yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw telah disampaikan secara sempurna , lengkap tanpa ada yang tertinggal sedikitpun .

    Allah Ta’ala berfirman:
    اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمُ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لِكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا
    “Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu” ( Qs al-Maidah : 3 ).
    Diriwayatkan oleh Al Baghawi (Syarhus Sunnah 14/303-305), dari Zaid Al Yami dan ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari Ibnu Mas’ud radliyallahu ‘anhu, katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
    أَيُّهَا الْنَّاس إِنَهُ لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِبُّكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدْكُمْ مِنَ الْنَّارِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ , وَإِنَهُ لَيْسَ شَيْءٍ يُقَرِبُكُمْ مِنْ الْنَّارِ وَيُبَاعِدْكُمْ عَنِ الْجَنَّةِ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ
    “Wahai manusia, tidak ada satupun yang mendekatkan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari neraka melainkan telah aku perintahkan kepada kalian. Dan tidak ada satupun yang mendekatkan kalian kepada neraka dan menjauhkan kalian dari surga melainkan telah aku larang kalian daripadanya.”

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda:
    قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى البَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَاِل
    “ Sungguh, aku tinggalkan kalian di atas yang putih bersih, malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyimpang daripadanya sepeninggalku kecuali orang yang celaka.” ( H.R Ibnu Majah , Ahmad dan Al-Hakim )
    Diriwayatkan oleh Imam Muslim (3/1472, 1844), An Nasai dalam Al Kubra (4/431), Ibnu Majah (2/2956), dan Al Baihaqi (8/169), dari hadits ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radliyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam, beliau bersabda:
    إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرٍ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَ يُنْذِرَهُمْ شَرًّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
    “Sesungguhnya tidak seorangpun dari Nabi yang datang sebelumku melainkan wajib atasnya menunjukkan ummatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya.”

    At-Tabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala , kecuali telah aku perintahkan kepadamu . Dan tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang menjauhkanmu dari Allah Ta’ala , melainkan aku telah melarangmu ”.
    Dalam riwayat yang lain katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada kamu sekalian dengannya melainkan sungguh telah aku perintahkan dengannya , dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah larang kepadamu sekalian daripadanya melainkan telah aku larang kamu sekalian daripadanya ”. ( H R . Ibnu Abdil Bar ).

    ” Dari Bilal bin Harits , bahwasanya katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda :” Ketahuilah ! ”. ” Apa yang akan aku ketahui wahai Rasulullah ? ”, tanya Bilal . ” Ketahuilah wahai Bilal ”, sabda Rasulullah lagi. Bilal berkata : Biarlah saya tahu Ya Rasulullah ”, ” Kemudian Rasulullah saw bersabda : ” Bahwa barangsiapa yang menyemarakkan suatu sunnah dari sunnah-sunnahku yang telah dilupakan sepeninggalku, maka dia akan mendapat pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakan nya tanpa mengurangi sedikitpun pahala mereka . Barangsiapa yang membuat ”amalan baru” yang sesat , maka ( perbuatan itu ) tidak akan diridhai Allah dan Rasul – Nya , dan dia akan mendapatkan dosa orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa-dosa manusia sedikitpun.” (H.R. Tirmidzi )
    Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda :
    “Hati-hatilah kalian dari perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, karena sesungguhnya setiap perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”
    Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
    من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد
    “Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang bukan termasuk urusan ( tuntunan syari’at ) kami, maka amalannya tersebut tertolak.” (HR. Muslim, Ahmad)
    Dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda dalam khuthbahnya:
    “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara baru yang diada-adakan dalam agama ini, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR.Muslin dan An-Nas’i)

    PENJELASAN PARA ‘ULAMA TENTANG AMALAN YANG DI ADA-ADAKAN
    Ibnul Majisyun mengatakan: “ Saya pernah mendengar Imam Malik berkata: “ Siapa yang melakukan suatu kebid’ahan dan dianggapnya baik, berarti dia menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam telah mengkhianati risalah. Karena sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman:
    اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمُ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لِكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا
    “ Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu..”
    ( Q S al – Maidah : 3 )
    Maka apapun yang pada saat itu bukan ajaran agama (amalan-amalan baru atau amalan yang di ada-adakan yang pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah dilakukan oleh beliau dan para sahabat ), maka pada hari ini juga bukan bagian dari ajaran agama Islam ”.

    Mereka selalu mengukur baik dan buruk perbuatan
    nya dengan akal fikirannya sendiri , bukannya dengan timbangan syari’at Allah dan Rasul – Nya

    ” Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. ( Q S . 2 : 216 )

    Mereka adalah orang-orang menolak mengikuti Rasul karena mempertahankan tradisi orang tua mereka

    “ Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab: “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? “. ( Q S 5 : 104 )

    ” Dan tiadalah patut bagi laki – laki yang mukmin dan tidak ( pula ) bagi perempuan yang mukmin , apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan , akan ada bagi mereka pilihan
    ( yang lain ) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah tersesat , sesat yang nyata ”. ( QS . 33 : 36 )

    Kebanyakan mereka hanya mengikuti prasangka .
    ( prasangka baik dan prasangka benar )

    ” Dan kebanyakan mereka tidaklah mengikuti kecuali prasangka saja., Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna mencapai kebenaran . Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan ”
    ( QS . 10 : 36 )

    Mereka adalah orang-orang yang suka memperturutkan hawa nafsu

    ” Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka , pasti binasalah langit dan bumi ini , dan semua yang ada di dalamnya . Sebenarnya Kami telah telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggan itu .” ( QS . 23 : 71 )

    Perintah mengikuti jejak para Sahabat
    ( al – khulafa’ ar – rasyidin )

    At – Tirmidzi , Abu Daud dan lainnya me riwayatkan dari Al-Irbadh , ia berkata ; ” Pada suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat mengimami kami , setelah selesai shalat beliau menghadap kepada kami dan menyampaikan nasehat yang membuat air mata berlinang dan hati bergetar , lalu ada salah seorang yang berkata ; ” Wahai Rasulullah , sepertinya ini adalah nasehat dari seorang yang hendak berpisah , apa saja yang engkau wasiatkan kepada kami ? ” maka beliau ( Rasulullah SAW ) bersabda : ” Aku memberi nasehat kepada kalian agar selalu bertaqwa kepada Allah , memperhatikan dan menta’ati pemimpin kalian meskipun ia seorang budak Habsyi , Sesungguhnya kelak siapa diantara kalian yang hidup lama sepeninggalku , niscaya akan melihat banyak perselisihan . Maka , hendaklah kalian selalu berpegang kepada sunnahku dan sunnah al – khulafa’ ar – rasyidin yang mendapat petunjuk . Peganglah erat – erat dan gigitlah kuat – kuat dengan gigi geraham kalian . jauhilah perkara – perkara baru ( yang diada – adakan ) , karena setiap perkara baru
    ( yang diada – adakan ) adalah bid’ah , dan setiap bid’ah adalah sesat ”. ( Hadits ini shahih ).

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
    ” Sebaik – baik umatku adalah yang se zaman denganku , kemudian mereka yang datang setelahnya ”. ( HR Bukhari – Muslim )

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Bagi kamu sunnahku dan sunnah para ( sahabatku ) Khulafa ’ur-Rasyidin ”
    ( HR . Abu Daud , Ibn Majah , Ibn Hibban dan Tirmidzi ).

    Dari Abdullah bin Mas’ud r.a beliau berkata ;
    ” Ikutilah jejak – jejak kami , janganlah kalian membuat sesuatu yang baru ( ” amalan baru” ) , karena kalian telah tercukupi dalam agama kalian ( dengan mengikuti jejak kami itu ).
    ( Diriwayatkan oleh Al-Lalika’i 1/86 ).

    Abu Hurairah r.a berkata :
    ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajari kami tentang segala sesuatu sampaipun cara membuang hajat ” ( H R . Bukhari ).

    Imam Malik bin Anas berkata :
    „ Sesuatu yang pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bukan merupakan Agama ( bagian Agama ) maka diapun pada zaman sekarang bukan Agama ( bagian Agama ) “

    Abul `Aliyah pernah berkata : „ Tetaplah kamu pada keadaan yang pertama , yang pernah dikerjakan oleh para Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebelum mereka berpecah belah „

    Hudzaifah ra , ia berkata :
    ” Setiap ibadah yang tidak ditetapkan sebagai ibadah oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , maka jangan lah kamu menetapkannya sebagai ibadah , sebab yang awal tidak meninggalkan suatu perkataanpun pada yang akhir . Maka dari itu takutlah kamu kepada Allah dan ambillah jalan orang – orang sebelum kamu „

    Ibnu Umar ra berkata :
    “ Setiap „Amalan baru“ Adalah sesat , meskipun ” Amalan baru ” itu dianggap baik oleh orang banyak ”.

    Abdullah ibnu umar ra juga berkata :
    ” Wahai sekalian manusia , kamu akan menciptakan sesuatu yang baru dan juga akan diciptakan untukmu sesuatu yang baru . Maka jika melihat sesuatu yang tidak dikenal dalam al-Qur’an dan as-Sunnah , maka tetaplah kamu dan jangan berpisah dengan perkara yang pertama ”.

    Diriwayatkan oleh al–Baihaqi dari Ibnu Abbas- ra , bahwa dia berkata :
    ” Sesungguhnya perkara yang dibenci oleh Allah adalah ”Amalan Baru”, dan sesungguhnya merupakan bagian dari ” Amalan Baru ” adalah ber i’tikaf ditempat shalat yang ada didalam rumah – rumah”.

    Fudhail bin Iyadh berkata ;
    ” Ikutilah jalan – jalan menuju petunjuk , jangan terpengaruh dengan sedikitnya orang – orang yang menempuhnya , dan jauhilah jalan – jalan menuju kesesatan , jangan terpedaya dengan banyaknya jumlah mereka”

    Muhammad bin Aslam pernah berkata :
    ” Barangsiapa yang menghormati para pelaku ” Amalan Baru ” berarti dia telah membantu merobohkan Islam ”

    Munculnya wujud rasa cinta yang keliru :
    Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Nabi yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Jika ini benar, siapakah diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi ketimbang Sahabat ?. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjawab “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika memang demikian, lalu mengapa para Sahabat tidak mewujudkan rasa cinta kepada Nabi dengan cara merayakan hari kelahiran Nabi sebagaimana sebagian muslim di zaman ini ? Mengapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini ?. “Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111]. Sesungguhnya Ahlussunnah meyakini bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orang-orang munafik, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mustahil mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku ( Muhamad )! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ [QS.Ali-‘Imran: 31].

    Hari lahir Nabi memang istimewa , akan tetapi . .
    Tentang keistimewaan hari lahir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , terdapat hadits shahih dari Abi Qatadah, beliau menceritakan bahwa seorang A’rabi (Badawi) bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “ Bagaimana penjelasanmu tentang berpuasa di hari Senin? maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ia adalah hari aku dilahirkan dan hari diturunkan kepadaku Al-Qur’an” [Syarh Shahih Muslim An-Nawawi 8 / 52]. Hari kelahiran Nabi adalah istimewa berdasarkan hadits tersebut, akan tetapi tidak terdapat dalam hadits tersebut perintah untuk merayakannya. Bahkan para sahabat Rasulullah pun tidak pernah di perintahkan untuk mengadakan pesta perayaan kelahiran beliau dengan mendendangkan syair – syair pujian kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam

    ANALISA DAMPAK PERAYAAN MAULID
    Praktek Kesyirikan yang tidak Disadari : Inilah dampak yang terbesar dan tercantum di urutan pertama dari sekian kerusakan dalam ritual perayaan maulid. Karena perbuatan Syirik menghapus seluruh amal seorang hamba sebagaimana firman-Nya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu (Hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalmu dan niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar : 65]. Kaum Muslimin yang terlibat dalam pembacaan Barzanji tersebut juga meyakini datangnya ruh Muhammad sehingga mereka menyambutnya dengan berdiri. Ini adalah I’tiqad yang keliru dan melampaui batas terhadap Nabi saw . Keyakinan seperti ini bertentangan dengan firman Allah : “Kemudian, sesudah itu sesungguhnya kamu sekalian benar-benar akan mati, kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat.” [Al-Mukminun : 15-16]. Bertentangan pula dengan sabda Rasulullah saw : “Aku adalah orang yang pertama kali dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat nanti, Aku adalah orang yang pertama kali memberi Syafa’at dan orang yang pertama kali diterima Syafa’atnya ( dengan seizin Allah ) ” Berkata Imam Ibnu Baaz setelah membawakan dua dalil tersebut, “Ayat dan Hadits di atas serta nash-nash lain yang semakna bahwa Nabi Muhammad saw dan siapapun yang sudah mati tidak akan bangkit kembali dari kuburnya, kecuali pada hari kiamat. Hal ini merupakan kesepakatan para ‘ulama Muslimin, tidak ada pertentangan di antara mereka”. [At-Tahdziru minal Bida’ oleh Syaikh Abdul ‘Aziz Abdullah bin Baaz].

    Mendahului Allah dan Rasul-Nya dalam menetapkan Syari’at ( Sesungguhnya tidaklah memuliakan Allah dan Rasul – Nya sebagaimana mestinya )
    Ini dikarenakan Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari’at untuk beribadah dengan merayakan hari kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak ada contohnya dari Rasulullah dan Sahabat jelas merupakan sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari’at. Sedangkan Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya…”[Al-Hujurat :1]. Maksudnya adalah, orang-orang Mukmin tidak boleh

    menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana pendapat Anda ? Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan bagi kebahagian hambanya , kemudian Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datanglah seorang hamba dengan membawa aturan baru yang dianggapnya baik bagi dirinya dan bagi hamba yang lain. Tidakkah ia (si hamba) tanpa disadari telah lancang menuduh aturan Sang Raja belum sempurna, sehingga perlu ditambahi ? apakah hak mereka sehingga dengan sangat lancangnya menambah nambahi aturan aturan Islam yang telah dinyatakan telah sempurna oleh Allah Subhanallahuwa ta’ala sebagaimana firman-Nya :
    اَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَ أَتْمَمْتُ عَلَيْكُمُ نِعْمَتِي وَرَضِيْتُ لِكُمُ اْلإِسْلاَمَ دِيْنًا
    “Pada hari ini, Aku sempurnakan bagi kamu agama kamu, dan Aku cukupkan ni’mat-Ku kepadamu, dan Aku ridla Islam jadi agamamu..” ( Q S al – Maidah : 3 )

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam , beliau bersabda:
    إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرٍ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَ يُنْذِرَهُمْ شَرًّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
    “Sesungguhnya tidak seorangpun dari Nabi yang datang sebelumku melainkan wajib atasnya menunjukkan ummatnya kebaikan yang diketahuinya dan memperingatkan mereka dari kejahatan yang diketahuinya.”( H.R :Muslim , An-Nasai ,Ibnu Majah )
    At-Tabrani meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad shahih bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu yang mendekatkan kepada Allah Ta’ala , kecuali telah aku perintahkan kepadamu . Dan tidaklah aku meninggalkan sesuatu yang menjauhkanmu dari Allah Ta’ala , melainkan aku telah melarangmu ”.

    Dalam riwayat yang lain katanya:”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam bersabda : ” Tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah perintahkan kepada kamu sekalian dengannya melainkan sungguh telah aku perintahkan dengannya , dan tidaklah aku tinggalkan sesuatu dari apa-apa yang telah Allah larang kepadamu sekalian daripadanya melainkan telah aku larang kamu sekalian daripadanya ”. ( H R . Ibnu Abdil Bar ).
    Inilah hakikat Bid’ah, menyaingi bahkan mengambil hak Allah dalam menetapkan Syari’at. Padahal Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka (aturan) agama yang tidak diizinkan Allah ?” [Asy-Syuura :21]. Kita tak akan pernah menemukan adanya perayaan hari ulang tahun Nabi oleh para Sahabat terekam dalam lembaran-lembaran kitab hadits yang shahih, karena memang itu tidak pernah terjadi pada masa Sahabat baik tabi’in, tabi’ut tabi’in dan bahkan tidak pernah terjadi pada masa Imam Syafi’ie (150 H – 204 H). Karena bid’ah maulid baru muncul pada abad ke-4 H. Kalau memang peringatan Maulid itu baik maka tentunya para sahabat telah mendahului kita melakukannya sebagaimana kata ulama : “walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi”

    Perayaan Maulid ( Umat Islam ) , Pesta Natal ( Orang Nasrani ).
    Perayaan bid’ah yang diadakan oleh kebanyakan kaum muslimin adalah perayaan maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-. Bahkan maulid Nabi ini merupakan induk dari maulid-maulid yang ada seperti maulid para wali, orang-orang sholeh, ulang tahun anak kecil dan orang tua. Maulid-maulid ini adalah perayaan yang telah di kenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu. Dan perayaan ini bukan hanya ada pada masyarakat kaum muslimin saja tapi sudah di kenal sejak sebelum datangnya Islam. Dahulu Raja-Raja Mesir (yang bergelar Fir’aun) dan orang-orang Yunani mengadakan perayaan untuk Tuhan-Tuhan mereka,[1] demikian pula dengan agama-agama mereka yang lain. Lalu perayaan-perayaan ini di warisi oleh orang-orang Kristen, di antara perayaan-perayaan yang penting bagi mereka adalah perayaan hari kelahiran Isa al-Masih -alaihi salam-, mereka menjadikannya sebagi hari raya dan hari libur serta bersenang-senang. Mereka menyalakan lilin – lilin, membuat makanan-makanan khusus serta mengadakan hal-hal yang diharamkan.
    Kemudian sebagian orang yang menisbatkan dirinya kepada agama Islam ini ikut – ikutan pula menjadikan hari kelahiran Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- sebagai hari raya yang diperingati seperti orang-orang Kristen yang menjadikan hari kelahiran Isa al-Masih sebagai hari raya mereka. Maka orang-orang tersebut menyerupai orang-orang Kristen dalam perayaan dan peringatan maulid Nabi dengan mengadakan pesta meriah setiap tahun.
    Dari sinilah asal mula maulid Nabi sebagaimana yang dikatakan oleh as-Sakhawi : “Apabila orang-orang salib / kristen menjadikan hari kelahiran Nabi mereka sebagai hari raya maka orang Islam pun lebih dari itu” (at-Tibr al-Masbuuk Fii Dzaiissuluuk oleh as-Sakhawi)
    Inilah teks penyerupaan dengan orang-orang Kristen. Sesungguhnya perayaan maulid Nabi ini menyerupai orang-orang Kristen, padahal “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk kaum itu” (HR. Abu Daud, Ahmad dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwaul Gholil 5/109.) Dan inilah yang dikabarkan serta yang dikhawatirkan oleh Nabi -shollallahu alaihi wa sallam dalam sabdanya :
    “Sesungguhnya kalian akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sedikit demi sedikit sampai seandainya mereka masuk kelubang biawak kalian juga akan mengikuti mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    mengekor pada Nashrani : Maulid pada hakikatnya meniru Nashrani dalam hal merayakan hari kelahiran Nabi Isa yang mereka sebut dengan Natal. Kita, ummat Muhammad dilarang keras menyerupai Yahudi dan Nashrani apalagi meniru-niru ritual agama mereka. Allah berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145]. Yang dimaksud ayat ini menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah adalah “meniru sesuatu yang menjadi ciri khas mereka, atau yang merupakan bagian dari ajaran Agama mereka” [Iqtidha’ shirathal mustaqim T. / 63-64]. Rasulullah juga bersabda : “ Barang siapa menyerupai suatu kaum , berarti ia termasuk golongan kaum itu ” [Ahmad dan Abu Dawud, shahih]. Kecenderungan bersikap tabdzir (menghamburkan harta secara mubazzir) , Bisa dibayangkan dana yang dikeluarkan oleh sebagian kaum muslimin yang merayakan maulid, andaikata dana-dana tersebut disedekahkan kemudian dikorbankan untuk berjihad di jalan Allah niscaya hal itu akan lebih bermanfaat ketimbang menggunakannya sebagai penyokong bid’ah yang tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai memberatkan diri untuk berhutang kepada saudara muslim lainnya. Ini adalah sikap mubazzir yang dapat menghantarkan kita menjadi saudara-saudara syaitan sebagaimana yang disebut oleh Al-Qur’an : “…dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya” [Al-Isra’ :26-27].

    Membantu penyebaran hadits palsu :
    Perlu diketahui bahwa banyak beredar di tengah ummat hadits-hadits tentang keutamaan merayakan hari kelahiran Nabi. Dan semuanya adalah palsu tidak ada keraguan padanya. Kami tidak akan menyebutkannya karena di sini bukanlah tempatnya. Di bulan Rabiul Awwal ini selalu disampaikan hadits-hadits tentang keutamaan maulid di atas-atas mimbar maupun pada saat acara perayaan dilangsungkan, ini tentu saja membantu menyebarkan kedustaan atas nama Rasulullah. Sedangkan Rasul bersabda :
    “Barang siapa mengatakan sesuatu atas namaku sesuatu yang tidak aku katakan maka hendaklah ia mengambil tempat duduknya dalam neraka.” [Hadits Hasan riwayat Ahmad].
    Persatuaan Islam yang semu :
    Sebagian kaum Muslimin masih berusaha melakukan pembelaan terhadap perayaan maulid dengan berkata : “Ini adalah momen yang istimewa untuk mempererat ukhuwah, silaturahmi dan menyemarakkan sedekah antara saudara Muslim. Jadi tidak ada salahnya kita merayakan maulid dengan kemeriyahannya”. Untuk menjawab ungkapan ini kita kembali kepada kaidah yang sangat kokoh bahwa generasi pertama ummat ini adalah sebaik-baik generasi, berdasarkan hadits “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi’in) kemudian yang sesudahnya (tabi’ tabi’in)” [HR. Bukhari]. Berangkat dari kaidah ini kita katakan bahwa para Sahabat adalah orang-orang yang paling kokoh ukhuwah dan silaturahminya terhadap saudara Muslim. Barisan shaf mereka rapat, bersambung dari bahu kebahu dari tumit ke tumit dan kokoh dihadapan Rabbul ‘alamin sewaktu mereka berdiri, ruku’ dan sujud. Jiwa-jiwa mereka bersatu di medan jihad. Begitu pula sedekah mereka tidak berbicara sebagaimana orang-orang di zaman ini. Dan tidaklah itu semua dikarenakan oleh perayaan maulid Nabi, tidak pula oleh aneka lomba yang mereka adakan setiap Rabiul Awwa . Giliran kami yang bertanya, jika maulid adalah jembatan menuju persatuan Islam dan ukhuwah Islamiyah yang kokoh, lalu apa gerangan yang mengakibatkan kaum Muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak karena berpecah belah ? Padahal perayaan maulid telah berlangsung lebih dari sepuluh abad. Hanya kepada Allah kita kembali dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dari badai syubhat hawa nafsu yang menerpa.

    Siapa Orang Pertama Yang Mengadakan Maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam – Dalam Sejarah Islam?
    Para Ulama yang mengingkari perayaan bid’ah ini telah sepakat, demikian juga dengan orang-orang yang mendukung acara bid’ah ini bahwa Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- tidak pernah merayakan maulidnya dan juga tidak

    pernah menganjurkan atau memerintahkan hal ini. Para sahabat beliau, para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang merupakan orang-orang terbaik umat ini serta yang paling bersemangat mengikuti Sunnah Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- mereka semuanya tidak pernah merayakan maulid. Tiga generasi umat Islam yang telah di rekomendasi oleh Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- berlalu dan tidak di temui pada saat-saat itu perayaan-perayaan maulid ini. Tapi ketika Daulah Fatimiyyah di Mesir berdiri pada akhir abad keempat muncullah perayaan atau peringatan maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- yang pertama dalam sejarah Islam,[2] sebagaimana hal ini dikatakan oleh al-Migrizii [3] dalam kitabnya “Al-Mawa’idz wal i’tibar bidzikri al-Khuthoth wal Aatsar” : Dahulu para Kholifah / penguasa Fatimiyyin selalu mengadakan perayaan-perayaan setiap tahunnya, diantaranya adalah perayaan tahun baru, Asy-Syura, Maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-, Maulid Ali bin Abi Thalib a, Maulid Hasan dan Husein, Maulid Fatimah dll. (Al-Khuthoth 1/490)

    Kilas Balik Pelopor Pertama Maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-
    Sultan Irbil dan perayaan Maulid : Dahulu di Mosul ada ahli zuhud yaitu Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla (dahulu dia memiliki satu ruangan yang selalu didatanginya, dan setiap tahunnya dibulan Maulid ada undangan yang didatangi oleh para raja, pemerintah, para ulama, menteri dan mereka merayakan hal itu) Abu Syamah berkata dalam kitabnya: “ Al-Ba’its ‘alaa inkaril Bida’I wal hawadits” ketika membahas tentang maulid nabi: (pertama kali yang melakukannya di Mosul Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla seorang yang shalih yang masyhur yang diikuti kemudian oleh Sultan Irbil dan yang lain semoga Allah merahmati mereka).
    Dan Sultan Irbil disini adalah Al-Mudzaffar Abu Sa’id Kukburi bin Zaidud diin Ali bin Tabaktakin Sultan Irbil yang wafat tahun (630 H) yang paling terkenal dalam merayakan Maulid Nabi secara berlebihan setelah Ubaidiyyun, dimana dia merayakannya dengan mewah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam sejarahnya, beliau berkata: ( berkata As Sabth: telah dihikayatkan oleh sebagian yang menghadiri perayaan Mudzaffar dalam maulid dimana dia menyajikan 5000 kepala bakar, 10000 ayam, dan 100000 susu kering, dan 30000 piring kue manis… dia berkata: diantara yang menghadirinya dalam pesta maulid para ulama, ahli sufi, dan memperdengarkan nyanyian sufi dari dhuhur hingga subuh dan dia ikut menari bersama mereka…).
    Dari sini menjadi jelas bahwa perayaan maulid dan semacamnya termasuk kebid’ahan Ubaidiyyun , kemudian diikuti oleh para ahli zuhud dan raja, dan ikuti oleh orang awwam, sebagaimana kita tahu bahwa ini bertentangan dengan nas-nas syarie dan amalan para salafush shalih yang mulia. Seandainya hal tersebut adalah baik, maka pastilah para salafus sholih ( para sahabat Rasulullah ) sudah melaksanakannya, karena mereka ada suri tauladan terbaik dalam kesungguhan melaksanakan ajaran yang baik karena Allah Ta’alaa berfirman:

    Artinya: “ Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau Sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului Kami (beriman) kepadanya.” [ Al-Ahqaf: 11].
    Ibnu Katsir dalam menafisrkan ayat ini berkata: adapun Ahli Sunah Wal Jamaah mereka mengatakan tentang setiap perbuatan atau perkataan yang tidak penah dipastikan dari para sahabat Rasulullah : adalah bid’ah karena seandainya hal itu baik tentulah mereka telah mendahului kita dalam hal itu mereka tidak pernah meninggalkan satu perbuatan baik pun kecuali mereka segera mengamalkannya. Tafsir Ibnu Katsir juz 7 hal 278.
    Pada tahun 317 H muncul di Maroko sebuah kelompok yang di kenal dengan Fatimiyyun (pengaku keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib) yang di pelopori oleh Abu Muhammad Ubeidullah bin Maimun al-Qoddah. Dia adalah seorang Yahudi yang berprofesi sebagai tukang wenter, dia pura-pura masuk ke dalam Islam lalu pergi ke Silmiyah negeri Maroko. Kemudian dia mengaku sebagai keturunan Fatimah binti Ali bin Abi Tholib dan hal ini pun di percaya dengan mudah oleh orang-orang di Maroko hingga dia memiliki kekuasaan.
    Ibnu Kholkhon[4] berkata tentang nasab Ubeidillah bin Maimun al-Qoddah : “Semua Ulama sepakat untuk mengingkari silsilah nasab keturunannya dan mereka semua mengatakan bahwa, semua yang menisbatkan dirinya kepada Fatimiyyun adalah pendusta. Sesungguhnya mereka itu berasal dari Yahudi dari Silmiyah negeri Syam dari keturunan al-Qoddah. Ubeidillah binasa pada tahun 322 H, tapi keturunannya yang bernama al-Mu’iz bisa berkuasa di Mesir dan kekuasan Ubeidiyyun atau Fatimiyyun ini bisa bertahan hingga 2 abad lamanya hingga mereka dibinasakan oleh Sholahuddin al-Ayubi pada tahun 546 H.” [5]
    Perlu diketahui bahwa Maimun al-Qoddah ini adalah pendiri madzhab/aliran Bathiniyyah yang didirikan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Aqidah mereka sudah keluar dari Islam bahkan mereka lebih sesat dan lebih berbahaya dari Yahudi dan Nasrani. Tidak ada yang bisa membuktikan akan hal ini kecuali sejarah mereka yang bengis dan kejam terhadap kaum muslimin, diantaranya : pada tahun 317 H ketika mereka telah sangat berkuasa dan bisa sampai ke Ka’bah mereka membunuh jama’ah haji yang sedang ber thowaf pada hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah). Mereka jadikan Masjid Haram dan Ka’bah lautan darah di bawah kepemimpinan dedengkot mereka Abu Thohir al-Janaabi.
    Abu Thohir al Janaabi ketika pembantaian ini duduk di atas pintu Ka’bah menyaksikan pembunuhan terhadap kaum muslimin/jama’ah haji di Masjid Haram dan dibulan haram/suci. Dia mengatakan : “Akulah Allah, Akulah Allah, Akulah yang menciptakan dan Akulah yang membinasakan” – Mahasuci Allah dari apa yang ia katakan -. Tidak ada seorang yang thowaf dan bergantung di Kiswah Ka’bah melainkan mereka bunuh satu persatu. Setelah itu mereka buang jasad-jasad tersebut ke sumur zam-zam. Dan mereka cungkil pintu Ka’bah dan mereka sobek kiswah Ka’bah serta mereka cabut hajar aswad dengan paksa. Sehingga Hajar Aswad yang pada mulanya merupakan satu bongkah batu sekarang menjadi pecah berkeping-keping menjadi 8 buah batu-batu kecil . Pemimpin mereka (Abu Thohir) ketika melakukan hal tersebut dia mengatakan : “Dimana itu burung (Ababil), mana itu batu-batu yang (di buat melempar Abrahah)???” Mereka membawa hajar aswad ke Mesir pada tahun 319 H dan menyimpannya selama 20 tahun.[6] , kemudian dikembalikan lagi pada 339 H. Ini adalah gambaran singkat kekufuran Bathiniyyah

    Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Kelompok Bathiniyyah (Fatimiyyun) sebagai pencetus peringatan maulid
    Imam Abdul Qohir al-Baghdady (meninggal tahun 429 H) -rahimahullah- berkata : “ Madzhab Bathiniyyah bukan dari Islam, tapi dia dari kelompok Majusi [7]. Beliau juga berkata : “ Ketahuilah bahwa bahayanya Bathiniyyah ini terhadap kaum muslimin lebih besar dari pada bahayanya Yahudi, Nasrani, Majusi serta dari semua orang kafir bahkan lebih dahsyat dari bahayanya Dajjal yang akan muncul di akhir zaman.” [8]
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah -rahimahullah- mengatakan : “Sesungguhnya Bathiniyyah itu orang yang paling fasik dan kafir. Barangsiapa yang mengira bahwa mereka itu orang yang beriman dan bertakwa serta membenarkan silsilah nasab mereka (pengakuan mereka dari keturunan ahli bait/Ali bin Abi Tholib,-pent) maka orang tersebut telah bersaksi tanpa ilmu. Allah berfirman :

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya” (QS. Al-Isra: 36)
    Dan Allah berfirman :

    “Kecuali orang yang bersaksi dengan kebenaran sedang dia mengetahui” (QS.Az-Zukhruf : 86)
    Para Ulama telah sepakat bahwa mereka adalah orang-orang zindik dan munafik. Mereka menampakkan ke-Islaman dan menyembunyikan kekufuran. Para Ulama juga sepakat bahwa pengakuan nasab mereka dari silsilah ahlul bait tidaklah benar. Para Ulama juga mengatakan bahwa mereka itu berasal dari keturunan Majusi dan Yahudi. Hal ini sudah tidak asing lagi bagi Ulama dari setiap madzhab baik Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, maupun Hanabilah serta ahli hadits, ahli kalam, pakar nasab dll (Majmu Fatawa oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 35/120-132)

    Ajaran – ajaran Bathiniyyah :
    Bathiniyyah adalah pecahan dari aliran agama yang menyimpang dari pokok dan mengingkari syari’at , mereka merubah arti yang zahir kepada arti yang bathin . aliran – aliran bathiniyyah yang terkenal pada masa perkembangan Islam diantaranya : Ismailiyyah , Nashiriyyah , Zarariyyah , Ubaidiyyah , Quthubiyyah , hakamiyyah dan lain sebagainya.
    Beberapa contoh ajaran bathiniyyah :
    * Syahadat : bersyahadat pula dengan seorang imam .
    * Shalat : berarti mengoreksi diri
    * Zakat : membersihkan bathin
    * Mikat Haji : mengheningkan fikiran
    * Haji : pengokohan iman
    * Thaharah : penyucian bathin
    * Jinabat : Mendurhakai imam karena dibujuk ulama ahli syari’at
    * Imam : pemimpin yang mengajarkan ilmu bathin
    * Wahyu : ilham yang turun kepada semua imam dengan jalan suluk sejati.
    * karamah : kekuatan jiwa yang kuat dari imam – imam
    * Syayatin : orang yang diperbodoh oleh syari’at
    * Al Bab : Ali bin Abi Thalib
    * Sungai susu dan madu di surga : pusat ilmu bathin
    * Nabi dan Rasul : ucapan yang benar menurut jalan bathiniyah

    * Din : ajaran yang berbentuk keimanan dan syari’at untuk orang
    Awam yang jauh dari bathin ( belum faham hakekat )
    * Taqwa : menghayati iman akan kesatuan Tuhan
    * Mi’raj : meninggalkan syari’at lahir menuju ketinggian syari’at bathiniyah
    *Ya’juj dan ma’juj : semua pengamal ilmu syari’at
    Aliran Bathiiniyyah bermuka Islam ini semula timbul di Persia dan Irak lalu masuk ke India dan sekitarnya. Pada abad ke 16 masuk ke Asia Tenggara. Di Indonesia aliran bathiniyyah terbanyak di Jawa dan telah berbaur pula kedalam Kejawen . Aliran bathiniyyah pengingkar syari’at ini bukanlah Islam walaupun mereka mengaku beragama Islam. ( A.D.El.Marzdedeq : Parasit Akidah )
    Maulid : Tinjauan Sejarah
    Syaikh ‘Ali Mahfudzh dalam bukunya menerangkan, “Ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali mengadakannya ialah para Khalifah Bani Fahimiyyah di Kairo pada abad keempat Hijriyah. Mereka merayakan perayaan bid’ah enam maulid, yaitu: Maulid Nabi saw, Maulid Imam ‘Ali ra, Maulid Sayyidah Fathimah Az-Zahra radhiallahu ‘anha, Maulid Al-Hasan dan Al-Husein dan maulid Khalifah yang sedang berkuasa. Perayaan tersebut terus berlangsung dalam berbagai bentuknya sampai dilarang pada zaman pemerintahan Al-Afdhal Amirul Juyusy. Perayaan ini kemudian dihidupkan kembali di zaman pemerintahan Al-Hakim biamrillah pada tahun 524 Hijriyah setelah orang-orang hampir melupakannya. Dan yang pertama kali maulid Nabi dikota Irbil adalah Raja Al-Mudhaffar Abu Said di abad ketujuh dan terus berlangsung sampai di zaman kita ini. Orang-orang memperluas acaranya dan menciptakan bid’ah-bid’ah sesuai dengan selera hawa nafsu mereka yang diilhamkan oleh syaithan , jin dan manusia kepada mereka.” [Al-Ibda’ fi madhiril ibtida’: 126]. Satu hal yang sangat penting untuk diketahui bahwa Kerajaan Fathimiyyah didirikan oleh ‘Ubaidillah Al-Mahdi tahun 298 H di Maghrib (sekarang wilayah Maroko dan Aljazair) sedangakan di Mesir kerajan ini didirikan pada tahun 362 H oleh Jauhar As-Shaqali. Para pendiri dan raja-raja kerajaan ini beragama Syi’ah Islmailiyah Rafdliyah. Kerajaan ini didirikan sebagai misi dakwah agama tersebut dan merusak Islam dengan berkedok kecintaan terhadap Ahlul Bait (keluarga Nabi saw). Maka jelaslah sudah bagi mereka yang memiliki bashirah bahwa perayaan maulid dipelopori oleh kaum Syi’ah.
    Kesimpulan : Jadi pelopor bid’ah maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- adalah kelompok Bathiniyyah [9] yang mereka mempunyai cita-cita untuk merubah agama Islam ini dan memasukkan hal-hal yang bukan dari agama agar menjauhkan kaum muslimin dari agama yang benar ini. Menyibukkan manusia pada bid’ah (perayaan-perayaan bid’ah seperti maulid) adalah salah satu jalan yang mudah untuk mematikan Sunnah Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah. [10] Wallahu A’lam Bishowab

    STUDI KRITIS!
    Syair-syair Barzanji & Burdah
    Berikut adalah beberapa kalimat kufur dan syirik yang terdapat dalam kitab Barzanji sekaligus komentar dari sebagian ulama. , adapun bunyi syair pujiannya kepada Rasulullah SAW adalah sebagai berikut :
    Hambamu yang miskin mengharapkan
    “Karuniamu (wahai Rasul) yang sangat banyak”
    Padamu aku telah berbaik sangka
    “Wahai pemberi kabar gembira dan Pemberi Peringatan”
    Maka tolonglah Aku, selamatkan Aku
    “Wahai Penyelamat dari Sa’iir (Neraka)”
    Wahai penolongku dan tempat berlindungku
    “Dalam perkara-perkara besar dan berat yang menimpaku”
    Penjelasan : Misi dan tujuan kedatangan Rasulullah yang utama adalah untuk membebaskan manusia dari penghambaan diri kepada selain Allah. Sementara penyair dalam petikan syair Barzanji di atas ( bait ke-1 ) menyatakan penghambaan dirinya kepada Rasulullah (bukan kepada Allah) dan mengharapkan pemberian yang banyak dari beliau. Pada bait yang ke-2 dia telah berbaik sangka kepada Rasulullah (untuk menyelamatkan dirinya). Padahal Nabi sendiri menyuruh untuk berbaik sangka hanya kepada Allah bilamana akan menghadap Allah (akan mati) Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sahabat Jabir bin Abdillah bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah bersabda (3 hari sebelum wafatnya) :
    “Janganlah mati salah seorang dari kamu melainkan ia berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla“berbaik sangka dalam hadits tersebut maksudnya adalah mengharap rahmat dan ampunan
    Pada bait yang ke-3 penyair minta pertolongan kepada Rasulullah dan minta perlindungan dari beliau supaya diselamatkan dari api neraka, padahal Nabi sendiri melarang umatnya memohon untuk menghilangkan kesusahan dan kesulitan yang menimpa kecuali hanya kepada Allah. Bahkan beliau sendiri meminta perlindungan hanya kepada Allah dan memerintahkan ummatnya untuk berlindung serta memohon perlindungan hanya kepada Allah semata. Rasulullah bersabda : “
    “Tidaklah boleh memohon untuk menghilangkan kesusahan dan kesulitan yang menimpa (beristigotsah) kepadaku (karena Nabi tidak mampu melakukannya), dan beristigotsah itu hanya boleh kepada Allah semata.” [HR. Thabrani, semua periwayatnya shahih kecuali Ibnu luhaiah, dia hasan] .
    Pada bait yang ke-4 penyair menjadikan Nabi sebagai penolong dan tempat berlindung dalam perkara-perkara besar dan berat yang menimpanya dengan melupakan Allah ‘Azza wa Jalla sebagai penolong dan tempat berlindung yang Nabi sendiri meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada-Nya.
    Keempat bait syair ini di dalamnya terdapat kalimat-kalimat yang mengandung kesesatan dan kesyirikan yang sangat berat. Hal ini tidak diketahui oleh orang-orang yang berdiri mendendangkan syair-syair Barzanji tersebut. Berdirinya mereka (pembaca Barazanji) pada acara Maulid dan “Cukuran” (potong rambut bayi) dan acara ziarahan di rumah calon jamaah hajji. dikatakan oleh Ulama bahwa hal itu didasarkan kepada I’tiqad (keyakinan) sesat bahwasanya Nabi menghadiri majelis yang di dalamnya di baca kisah maulid tersebut. Setelah mendapat kritikan Ulama mereka pindah kepada I’tiqad (keyakinan) lain yang sama juga sesatnya yaitu anggapan bahwa Ruh Nabi hadir menyertai mereka. Sehingga terdengar dari mereka ungkapan “Jasadnya tidak menyertai kita akan tetapi rohaniatnya selalu bersama kita.”
    Kemudian di dalam Qashidah Burdah yang dicetak bersama kitab Barzanji, ada bait-bait yang dikritik oleh Ulama karena mengandung pujian melampaui batas yang ditujukan kepada Rasulullah (Ithra) sehingga menempatkan Nabi pada posisi dan tingkatan Allah ‘Azza wa Jalla. Diantara bait yang dikritik itu adalah:
    “Wahai makhluk yang mulia tiadalah bagiku tempat berlindung”
    “selain engkau, di kala bencana besar menimpaku”
    “Maka sesungguhnya termasuk sebagian dari pemberianmu (adalah) dunia dan akhirat”
    “dan termasuk sebagian dari ilmumu adalah ilmu tentang apa yang tercatat
    dalam Al-Lauh Al-Mahfudzh dan apa yang tertulis oleh Pena Allah“
    Inilah sebagian dari syair Qashidah yang mengandung Pujian kepada Rasululah saw yang melampai batas .

    1. Al-Adab Al-Yunaani Al-Qodim…oleh DR Ali Abdul Wahid Al-Wafi hal. 131.
    2. Al-A’yad wa atsaruha alal Muslimin oleh DR. Sulaiman bin Salim As-Suhaimi hal. 285-287.
    3. Dia adalah pendukung kelompok Ubeid Al-Qoddah (Ubeidyyin). Dia bernama Ahmad bin Ali bin abdul Qodir bin Muhammad bin Ibrahim al-Husaini al-Ubeidi. Lahir pada tahun 766 H.
    4. Dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Ibrahim bin Kholkhon, pengikut madzhab Syafi’i. Dia dilahirkan tahun 608 H. Seorang ahli sastra Arab dan penyair. Beliau meninggal pada tahun 681 H dan disemayamkan di Damaskus (Pent).
    5. Lihat Firoq Mu’ashiroh oleh DR Gholib Al-’Awajih 2/493-494. Perlu diketahui bahwa kelompok Bathiniyah ini memiliki beberapa nama / sekte. Diantaranya : Nushairiyah, Duruz, Qoromithoh (Ubeidiyyin/Fathimiyyin), Ibahiyah, Isma’iliyah dll.
    6. Lihat Bidayah wan Nihayah hal. 160-161 oleh Ibnu Katsir.
    7. Al-Farqu bainal Firoq oleh al-Baghdady hal. 22
    8. Ibid hal.282
    9. Ini pendapat yang kuat. Adapun yang mengatakan bahwa maulid tersebut dimulai tahun 604 H oleh Malik Mudoffar Abu Sa’id Kukburi maka ini tidak menafikan hal diatas karena awal maulid tahun 604 H ini di Mushil saja, adapun secara mutlak maka Bathiniyyahlah pencetus pertama Maulid Nabi -shollallahu alaihi wa sallam- didunia, khususnya di Mesir. (Lihat kitab “Al-Bida’ Al-Hauliyah” dan “Al-A’yad wa Atsaruha).
    10 “Al-Bida’ Al-Hauliyah” Hal. 145, oleh Abdullah bin Abdul Aziz at-Tuwaijiry
    Majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Ed 14, hal. 10-12

    wasiat bagi para Remaja Muslimah
    ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata : “Barangsiapa di antara kalian yang ingin meneladani, hendaklah meneladani para Shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena sesungguhnya mereka adalah ummat yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling sedikit bebannya, dan paling lurus petunjuknya, serta paling baik keadaannya. Suatu kaum yang Allah telah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya, untuk menegakkan agama-Nya, maka kenalilah keutamaan mereka serta ikutilah atsar-atsarnya, karena mereka berada di jalan yang lurus.” [Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Baar dalam kitabnya Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlih II/947 no. 1810, tahqiq Abul Asybal Samir az-Zuhairy]
    Wasiat Imam al-Auza’i : Imam al-Auza’i rahimahullah (wafat th. 157 H) mengatakan: “Bersabarlah dirimu di atas Sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para Shahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan Salafush Shalih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.” [Syarh Ushul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jama’ah 1/174 no. 315] ————————— Beliau rahimahullah juga berkata: “Hendaklah kamu berpegang kepada atsar Salafush Shalih meskipun orang-orang menolaknya dan jauhkanlah diri kamu dari pendapat orang meskipun ia hiasi pendapatnya dengan perkataannya yang indah.” [Imam al-Aajury dalam as-Syari’ah I/445 no. 127, di-shahih-kan oleh al-Albany dalam Mukhtashar al-‘Uluw lil Imam adz-Dzahaby hal. 138, Siyar A’laam an-Nubalaa’ VII/120]

    wahai para remaja, pelajarilah agama kalian
    ====== Mu’adz bin Jabal r.a. berkata : ” Pelajarilah ilmu, sebab memperlajarinya karena Allah adalah ketakwaan, mencarinya ibadah, mengulanginya tasbih, mengkajinya jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak tahu sedekah, mengorbankannya kepada yang berhak adalah kurban (kedekatan kepada Allah). Dengan ilmu, Allah dikenal dan disembah serta diesakan, dengan ilmu halal dan haram diketahui, dan dengan ilmu hubungan rahim disambung. —————Ilmu adalah teman di kala sendiri, kawan di kala kesepian, petunjuk di kala gembira, penolong di kala berada dalam bahaya, pendamping di masa kekosongan, teman di sisi orang-orang terasing, dan mercu suar jalan surga. Allah mengangkat berbagai kaum dengan ilmu sehingga menjadikan mereka pemimpin dan tokoh yang diteladani sebagai petunjuk jalan kepada kebaikan. Bekas-bekas perjalanan mereka di ikuti dan perbuatan mereka dicatat. Para malaikat sangat senang berteman dengan mereka dan mengelus mereka dengan sayapnya. Segala yang basah dan kering beristighfar untuknya. Ikan paus dan singa laut, binatang buas dan ternak darat serta bintang-bintang di langit beristighfar untuknya. —————— Ilmu adalah kehidupan hati yang buta, cahaya penglihatan dari kegelapan, dan kekuatan bagi kelemahan badan. Dengannya seorang hamba mencapai derajat orang-orang yang baik dan derajat yang paling tinggi. Mengingat ilmu sebanding (pahalanya) dengan puasa, dan mempelajarinya sebanding dengan shalat malam. Ilmu adalah imamnya amal perbuatan. Amal perbuatan adalah pengikutnya. Ilmu memberikan ilham kepada orang-orang yang berbahagia dan menjauhi orang-orang yang menderita “.

    Balas
    • 3. Abdurrhman Al wani  |  September 17, 2010 pukul 4:52 pm

      Munculnya wujud rasa cinta yang keliru :
      Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai bentuk ungkapan rasa cinta terhadap Nabi yang paling mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Jika ini benar, siapakah diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi ketimbang Sahabat ?. Tidak ada pilihan lain bagi kita kecuali menjawab “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika memang demikian, lalu mengapa para Sahabat tidak mewujudkan rasa cinta kepada Nabi dengan cara merayakan hari kelahiran Nabi sebagaimana sebagian muslim di zaman ini ? Mengapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini ?. “Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111]. Sesungguhnya Ahlussunnah meyakini bahwa yang terpenting adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orang-orang munafik, akan tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan mustahil mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku ( Muhamad )! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ [QS.Ali-‘Imran: 31].

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Asmaul Husna


Ayat – Ayat Al Qur’an

Doa – Doa

 

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي

“Wahai Rabbku, berikanlah taufik bagiku untuk bersyukur atas nikmat-Mu yang Kau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan untuk menunaikan amal shalih yang Engkau ridhai, dan berikanlah kebaikan pada keturunanku.” (Q.S. Al-Ahqaf:15)

رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيْمَ الصَّلاَةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الْحِسَابُ

“Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku. Ya Rabb kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan seluruh orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (Q.S. Ibrahim:40-41)

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا

“Ya Allah, anugrahkanlah kepada kami istri-istri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S Al-Furqan:74)

Kategori

Jadwal Sholat

Sponsor

Blog Stats

  • 73,519 hits

Feeds


%d blogger menyukai ini: