<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Yarasulullah&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://yarasulullah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yarasulullah.wordpress.com</link>
	<description>Seseorang akan bersama orang yang ia cintai</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Nov 2009 04:25:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='yarasulullah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Yarasulullah&#039;s Blog</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://yarasulullah.wordpress.com/osd.xml" title="Yarasulullah&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://yarasulullah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Andaikata Lebih Panjang Lagi……Andaikata Yang Masih Baru..…. Andaikata Semuanya…….”</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/11/23/andaikata-lebih-panjang-lagi%e2%80%a6%e2%80%a6andaikata-yang-masih-baru-%e2%80%a6-andaikata-semuanya%e2%80%a6%e2%80%a6-%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/11/23/andaikata-lebih-panjang-lagi%e2%80%a6%e2%80%a6andaikata-yang-masih-baru-%e2%80%a6-andaikata-semuanya%e2%80%a6%e2%80%a6-%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 04:15:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Mutiara]]></category>
		<category><![CDATA[Mutiara Rasul]]></category>
		<category><![CDATA[Sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/2009/11/23/andaikata-lebih-panjang-lagi%e2%80%a6%e2%80%a6andaikata-yang-masih-baru-%e2%80%a6-andaikata-semuanya%e2%80%a6%e2%80%a6-%e2%80%9d/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=661&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/11/muhammad.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-664" title="muhammad" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/11/muhammad.jpg?w=150&#038;h=150" alt="" width="150" height="150" /></a>Seperti biasa ketika hari Jum’at tiba para kaum lelaki berbondong-bondong menunaikan ibadah Sholat Jum’at ke Masjid, ketika itu ada seorang Sahabat sedang bergegas menuju ke Masjid di tengah jalan berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntunnya, lalu sahabat ini dengan sabar dan penuh kasih membimbingnya hingga tiba di masjid.<span id="more-661"></span></p>
<p>Pada hari yang lain ketika waktu menjelang Shubuh dengan cuaca yang amat dingin, Sahabat tersebut hendak menunaikan Jama’ah Sholat Shubuh ke Masjid, tiba-tiba ditengah jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan, kebetulan Sahabat tadi membawa dua buah mantel, maka ia mencopot mantelnya yang lama untuk diberikan kepada lelaki tua tersebut dan mantelnya yang baru ia pakai.</p>
<p>Pernah juga pada suatu ketika Sahabat tersebut pulang ke rumah dalam keadaan sangat lapar, kemudian sang istri menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging, namun tiba-tiba ketika hendak memakan roti yang sudah siap santap untuk dimakan tadi datanglah seorang musafir yang sedang kelaparan mengetuk pintu meminta makan, akhirnya roti yang hendak beliau makan tersebut dipotong menjadi dua, yang sepotong diberikan kepada musafir dan yang sepotong lagi beliau memakannya.</p>
<p>Maka ketika Sahabat tersebut wafat, Rosulullah Muhammad SAW datang, seperti yang telah biasa dilakukan beliau ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rosulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu.</p>
<p>Kemudian Rosulullah berkata,” Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?”</p>
<p>Istrinya menjawab, &#8220;Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal”</p>
<p>“Apa yang di katakannya?”</p>
<p>“Saya tidak tahu, ya Rosulullah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum wafat, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.&#8221;</p>
<p>“Bagaimana bunyinya?” desak Rosulullah.</p>
<p>Istri yang setia itu menjawab, suami saya mengatakan<br />
“Andaikata lebih panjang lagi……andaikata yang masih baru..…. andaikata semuanya…….” hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar,ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”</p>
<p>Rosulullah tersenyum.”sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,”ujarnya.</p>
<p>Jadi begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum’at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun.</p>
<p>Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan betapa luar biasanya pahala amal sholehnya itu, lalu iapun berkata “andaikan lebih panjang lagi”. Maksud suamimu, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.</p>
<p>Ucapan lainnya ya Rosulullah?” tanya sang istri mulai tertarik.</p>
<p>Nabi menjawab,”adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan.</p>
<p>Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya.</p>
<p>Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, “Coba andaikan yang masih baru yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”.Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.</p>
<p>Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rosulullah?” tanya sang istri makin ingin tahu.</p>
<p>Dengan sabar Nabi menjelaskan,”Ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba- tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan.</p>
<p>Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata ‘ kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda.<br />
Sahabat Hikmah, orang yang BERAMAL BAIK saja dia MENYESAL di AKHIR HAYATNYA, bagaimanakah dengan orang yang selama hidupnya BERAMAL BURUK?</p>
<p>Allah berfirman:<br />
“Jika kamu BERBUAT BAIK (berarti) kamu berbuat baik BAGI DIRIMU SENDIRI i dan jika kamu BERBUAT JAHAT, Maka (kejahatan) itu BAGI DIRIMU SENDIRIi”. (Al-Isra:7)</p>
<p>Wassalam</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/661/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/661/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=661&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/11/23/andaikata-lebih-panjang-lagi%e2%80%a6%e2%80%a6andaikata-yang-masih-baru-%e2%80%a6-andaikata-semuanya%e2%80%a6%e2%80%a6-%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/11/muhammad.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">muhammad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Habib Ali Alhabsyi, Ulama, Pejuang, dan Pendidik dari Betawi</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-abdurrahman-al-habsyi/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-abdurrahman-al-habsyi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 11:25:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alawiyyin]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Memasuki kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, jangan coba-coba menaiki kendaraan tiap Ahad pagi. Selesai shalat Subuh, di daerah ini, terutama di Jalan Kramat II dan sekitarnya, ribuan manusia berbondong-bondong mendatangi Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi yang terletak di jalan tersebut. Para pendatang yang ingin mendengar ceramah dari para ulama, harus bersusah payah dan berdesak-desakan untuk mendapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=645&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-651" title="habib-ali-abdurrahman-alhabsyi3" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-ali-abdurrahman-alhabsyi3.jpg?w=320&#038;h=205" alt="habib-ali-abdurrahman-alhabsyi3" width="320" height="205" /></p>
<p>Memasuki kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, jangan coba-coba menaiki kendaraan tiap Ahad pagi. Selesai shalat Subuh, di daerah ini, terutama di Jalan Kramat II dan sekitarnya, ribuan manusia berbondong-bondong mendatangi Majelis Taklim Habib Ali Alhabsyi yang terletak di jalan tersebut. Para pendatang yang ingin mendengar ceramah dari para ulama, harus bersusah payah dan berdesak-desakan untuk mendapat tempat di majelis tersebut. Sebagian besar dari mereka tak mendapatkan tempat di dekat mimbar (panggung). Mereka datang dari berbagai kota di Jabodetabek dan kota lainnya.</p>
<p><span id="more-645"></span>Tak hanya mereka yang ingin mendengarkan ceramah, para pedagang juga turut memadati area Kwitang. Tak heran, jalan yang tak terlalu lebar itu semakin sempit dan sesak. Tak kurang dari 100 pedagang yang menjual aneka kebutuhan pengunjung. Sepanjang jalan dari ujung Kramat Raya hingga lokasi majelis taklim ini yang berjarak sekitar 700 meter itu penuh sesak dengan lautan manusia. Begitu juga dengan daerah seputar Ciliwung yang dipenuhi dengan tenda-tenda pedagang, sejak Sabtu sore.</p>
<p>Membludaknya pengunjung di majelis taklim Kwitang ini tidak dapat dipisahkan dari pengaruh pendirinya, yakni Habib Ali bin Abdurahman Alhabsyi, seorang ulama kelahiran Betawi.</p>
<p>Sebelum majelis taklim di buka tiap Ahad pukul 08.00 pagi, para pengunjung terlebih dahulu berziarah ke makam sang habib di Majelis Al-Riyadh, Kwitang. Majelis taklim ini dibangun pada 1910 M (masehi) dari sebuah mushala kecil. Di kompleks makam itu, ratusan peziarah membaca surah Yasin dan berdoa untuk almarhum.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-652" title="habib-ali-al-habsyi1" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-ali-al-habsyi11.gif?w=155&#038;h=254" alt="habib-ali-al-habsyi1" width="155" height="254" />Habib Ali Alhabsyi dilahirkan pada 1286 Hijriyah (1869 Masehi) di Kwitang. Ayahnya, Habib Abdurahman bin Abdullah Alhabsyi, adalah seorang ulama yang lahir di Petak Sembilan, Semarang (Jateng), yang kemudian tinggal di Jakarta (Betawi). Di Betawi, Habib Abdurrahman menikah dengan seorang puteri ulama kelahiran Meester Cornelis (Jatinegara) bernama Nyi Salmah. Pada tahun 1296 Hijriyah (1879 M), Habib Abdurrahman meninggal dunia ketika Habib Ali berusia 10 tahun.</p>
<p>Jenazahnya dimakamkan di dekat kediaman Raden Saleh yang bersebelahan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) sekarang ini. Pelukis tenar yang punya nama di dunia internasional ini merupakan kemenakan ayah Habib Ali, sama-sama kelahiran Semarang.</p>
<p>Sebelum meninggal, Habib Abdurahman telah berwasiat kepada istrinya, Nyi Salmah, agar putranya (Habib Ali&#8211;Red) disekolahkan ke Hadramaut dan Makkah. Kala itu, untuk mendapatkan pendidikan agama, orang Betawi banyak menyekolahkan putra-putrinya ke Timur Tengah. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai kini.</p>
<p>Sesuai dengan pesan almarhum suaminya, Nyi Salmah pun menyekolahkan putranya ke Hadramaut. Selama lima tahun (1881-1886), Habib Ali berguru pada sejumlah ulama. Sebagai remaja yang haus akan ilmu, Habib Ali juga menempuh pendidikan di kota suci Makkah. Sekembali ke Indonesia, semangatnya untuk belajar terus menyala-nyala. Dia berguru dengan sejumlah ulama di Jakarta, termasuk Habib Usman Bin Yahya, mufti Betawi.</p>
<p>Ketika terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kaum Muslim di Tripoli, Libya, oleh Italia yang menjajah negeri itu, berita tidak berkemanusiaan ini pun sampai ke Jakarta. Banyak protes dari umat Islam, terutama melalui masjid-masjid. Dia pun diminta oleh gurunya, Habib Usman, di Masjid Pekojan, Jakarta Barat, berpidato untuk mengobarkan semangat kaum Muslim sebagai solidaritas terhadap saudaranya di Libya. Sejumlah tokoh Syarikat Islam (SI), seperti HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim, berperan besar dalam menggerakkan solidaritas umat Islam Indonesia. Mereka mencetuskan agar produk-produk Italia yang ada di Indonesia untuk diboikot. Di samping memboikot mobil Fiat, mereka juga membakar peci stambul buatan Italia yang banyak digunakan ketika itu.</p>
<p>Perjuangan kaum Muslim di Libya melawan penjajahan Italia ini dipimpin oleh Omar Mukhtar. Peristiwa ini telah difilmkan oleh Hollywood dengan judul Lion of the Desert (Singa Padang Pasir) yang diperankan oleh Anthony Quinn sebagai Omar Mukhtar.</p>
<p>Majelis taklim Kwitang didirikannya pada 1911. Dengan cepat, majelisnya didatangi banyak pengunjung, termasuk dari daerah-daerah pinggiran, seperti Ciputat, Condet, hingga Depok. Karena kendaraan bus kota belum ada kala itu, murid-muridnya berdatangan dengan naik kereta api dan sebagian besar menggunakan delman.</p>
<p>Di samping tasuwir (istilah untuk berpidato ketika itu), ia juga membuat beberapa kitab, seperti Al-Azhar al-Wardiyah (mengenai akhlak Nabi) dan Addurar Fi al-Shalawat al-Khair al-Bariyah (buku shalawat Nabi). Dia juga menggunakan kitab kuning karangan Habib Abdullah bin Alwi Alhadad, seorang ulama Hadramaut yang hidup sekitar 300 tahun lalu, yang mengarang Eatib Haddad yang masyhur itu.</p>
<p>Sebagai ulama yang dikenal luas, Habib Ali berdakwah di hampir seluruh tempat di Tanah Air. Dia juga memiliki banyak murid di Singapura dan Malaysia. Di samping itu, ia juga telah berkeliling ke berbagai negara, seperti Pakistan, India, Kolombo, dan Mesir.</p>
<p><strong>Pendidikan Islam modern</strong></p>
<p>Waktu itu, pendidikan agama lebih banyak dilakukan di rumah-rumah yang disebut &#8216;pengajian&#8217; secara tradisional. Habib Ali merasa tertantang untuk membangun perguruan Islam modern. Maka, pada 1911, berdirilah Unwanul Falah yang letaknya di samping Masjid Kwitang. Pengajarannya dengan sistem modern, yaitu adanya pembagian kelas. Karena itulah, banyak orang yang mengakui bahwa Habib Ali adalah guru para ulama Betawi. Puluhan ulama terkenal pernah menjadi murid di Unwanul Falah yang juga terbuka untuk murid-murid wanita.</p>
<p>Sekitar 300 meter dari majelis taklim, terletak Masjid Djami Kwitang (Ar-Riyadh). Pada tahun 1910, masjid ini semula sebuah mushala kecil. Dengan usaha Habib Ali, pada 1918 surau itu mengalami pembaharuan pertama berupa masjid dengan ruang depannya sebagai madrasah. Madrasah ini dinamakan Unwanul Falah. Kemudian, madrasah ini dipisahkan dari masjid menjadi dua buah sekolah untuk pria dan wanita. Tanah tersebut diwakafkan pemiliknya, Al-Kaff.</p>
<p>Pada 1963, saat Habib Ali berusia lanjut, melalui putranya, Habib Muhammad, masjid diperluas untuk ketiga kalinya. Untuk itu, Habib Ali mengundang sejumlah tokoh Islam dan para ulama terkemuka. Ketika masjid diperluas untuk ketiga kalinya ini, ribuan jamaah secara sukarela bekerja bakti melaksanakannya. Pada akhir 1990-an, menantunya, Habib Said Mahdali, pun mempercantik masjid tersebut hingga saat ini.</p>
<p>Tahun 1960-an, ketika masjid Kwitang direnovasi, jumlah masjid tidak sebanyak sekarang. Letaknya pun di kampung-kampung. Sementara itu, gereja-gereja terletak di tepi jalan-jalan raya. Jumlah masjid mulai banyak dan tersebar di segenap tempat setelah terjadinya pemberontakan G30S/PKI. Masyarakat makin yakin untuk melawan pengaruh komunis. Masjid pun dianggap sebagai tempat pergerakan umat.</p>
<p>Beberapa murid beliau adalah pemimpin Majelis Taklim Asyafiiyah, KH Abdullah Syafei, dan pemimpin Majelis Taklim Tahiriyah, KH Tohir Rohili. Sejumlah ulama Betawi lainnya yang pernah berguru kepadanya dan membuka majelis taklim adalah KH Abdulrazak Makmun dan KH Zayadi. Tidak hanya menganggap mereka sebagai murid-muridnya, Habib Ali juga memperlakukan mereka seperti kerabat sendiri. Dia sering mendatangi mereka di kediamannya. Di majelis taklimnya, mereka selalu diberi kesempatan untuk berpidato. Kemudian, bergabung pula Habib Salim bin Djindan yang terkenal dengan pidato-pidatonya yang berapi-api. alwi shahab</p>
<p><strong>Begitu Besar Cintanya pada Rasulullah</strong></p>
<p>Sambil duduk di kursi dan memakai jubah serta berserban putih&#8211;layaknya Pangeran Diponengoro ketika memproklamirkan perlawanan terhadap Belanda&#8211;Habib Ali Alhabsyi dengan suara lembut mengajak ribuan jamaah di majelisnya untuk meniru akhlak Nabi Muhammad SAW. Ketika menceritakan akhlak dan perjuangan Rasulullah SAW, Habib Ali sering menangis karena rasa cintanya pada junjungan umat tersebut. Bila sudah demikian, hadirin pun akan segera bershalawat untuk Rasulullah SAW.</p>
<p>Dalam meneladani akhlakul karimah sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, Habib Ali dan penerusnya senantiasa mengajak umat untuk mempererat hubungan silaturahim dan persaudaraan serta menjauhkan diri dari ideologi kebencian, hasut, dengki, ghibah, fitnah, dan namimah.</p>
<p>Seperti juga majelis taklim, maulid di Kwitang termasuk maulid yang tertua di Jakarta dengan membaca kitab Simtud Duror, karangan ulama Hadramaut, Habib Ali bin Muhammad Alhabsyi. Dia adalah guru dari Habib Ali Kwitang ketika belajar di Arab Selatan itu. Habib Ali telah menyelenggarakan maulid sebanyak 51 kali atas wasiat almarhum gurunya. Diteruskan oleh Habib Muhammad sebanyak 26 kali dan Habib Abdurahman selama 16 tahun.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-653" title="habib-ali-abdurrahman-alhabsyi2" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-ali-abdurrahman-alhabsyi21.jpg?w=181&#038;h=299" alt="habib-ali-abdurrahman-alhabsyi2" width="181" height="299" />Habib Ali yang meninggal dalam usia 99 tahun pada hitungan Masehi atau 103 tahun pada hitungan Hijriyah tidak pernah menyinggung masalah furu&#8217;iyah (cabang ilmu fikih). Dia menganggap, agama perlu diamalkan, bukan untuk diperdebatkan, apalagi saling memusuhi sesama kaum Muslim. Banyak yang mengatakan, inilah sebabnya majelis taklim Kwitang bertahan hampir satu abad. Sampai kini, majelis taklim di Kwitang ini telah memasuki generasi ketiga setelah Habib Ali. Disusul oleh putranya Habib Muhammad dan cucunya Habib Abdurahman. Putra Habib Abdurahman, yang juga bernama Habib Ali, tengah dipersiapkan untuk menjadi penerus di majelis taklim ini sebagai generasi keempat. Dia seorang sarjana komputer dan kini telah mendalami ilmu agama di Hadramaut, sebagaimana pernah dilakukan buyutnya, Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi.</p>
<p>Majelis Taklim Habib Ali dan maulid tiap akhir Kamis bulan Rabiulawal tidak pernah sunyi didatangi pejabat negara. Mulai dari masa Bung Karno, yang menurut Habib Abdurahman telah mengenal baik kakeknya sebelum kemerdekaan. Pada tahun 1963, rencananya Bung Karno akan datang kembali, tapi karena berbagai faktor, yang mewakilinya pada peringatan maulid kala itu adalah PM Djuanda. Tahun 1965, ketika berlangsung Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA), para tamu dan kepala negara pun diantar menko KASAB Jenderal AH Nasution berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Pimpinan Liga Muslimin Sedunia ketika ke Indonesia juga berkunjung ke majelis taklim Kwitang. Demikian pula dengan Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dan SBY yang sudah mengunjungi majelis ini.</p>
<p><strong>Hindari perbedaan</strong></p>
<p>Ketika tahun 1950-an dan 1960-an, situasi politik tengah memanas, ditambah lagi masih kerasnya perbedaan khilafiyah. Habib Ali dan ulama-ulama Betawi pun memaknainya hanya sebagai sebuah pendapat. Karena itu, Habib Ali tak mau membesar-besarkan perbedaan, apalagi berbeda dalam masalah khilafiyah.</p>
<p>Majelisnya itu terbuka untuk semua golongan. Tidak heran kalau majelisnya kerap didatangi oleh orang-orang Muhammadiyah. Bahkan, KH Abdullah Salim, pimpinan Masjid Al-Azhar di Kebayoran Baru, sering datang ke majelisnya. Dan, selalu diberikan kesempatan untuk berpidato oleh Habib Ali.</p>
<p>Ada hal menarik pada pemilu pertama tahun 1955. Ketika itu, NU baru saja memisahkan diri dari Masyumi dan membentuk partai sendiri. Dalam masa kampanye itu, Habib Ali tidak menampakkan diri berpihak pada salah satu partai dan tidak mengemukakan pilihannya secara terbuka meski lebih dekat kepada Partai NU. Sedangkan, murid dan pengikut setianya, KH Abdullah Syafei, yang saat itu masih muda dan gagah justru menjadi aktivis dan tokoh Masyumi. Perbedaan partai ini tidak berdampak sedikit pun terhadap hubungan akrab antara guru dan murid.</p>
<p>Sumber : <a href="http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/habib-ali-alhabsyi-ulama-pejuang-dan-pendidik-dari-betawi.html" target="_blank">http://dunia.pelajar-islam.or.id</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=645&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-abdurrahman-al-habsyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-ali-abdurrahman-alhabsyi3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">habib-ali-abdurrahman-alhabsyi3</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-ali-al-habsyi11.gif" medium="image">
			<media:title type="html">habib-ali-al-habsyi1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-ali-abdurrahman-alhabsyi21.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">habib-ali-abdurrahman-alhabsyi2</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Habib Ali bin Abu Bakar As Seggaf</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-abu-bakar-as-seggaf/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-abu-bakar-as-seggaf/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 11:15:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alawiyyin]]></category>
		<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>
		<category><![CDATA[Wali]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Selain dikenali orang sebagai seorang wali beliau juga salah seorang tokoh ulama yang kenamaan. Beliau sering memberitahukan apa yang tersembunyi dalam hati murid-murid beliau. Salah seorang murid beliau yang bernama Soleh Bahramil berkata: “Pada suatu kali ketika aku sedang sibuk berzikir di tengah majlis beliau, tibatiba di hatiku tergerak sesuatu yang mengganggu zikirku. Beliau menoleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=642&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selain dikenali orang sebagai seorang wali beliau juga salah seorang tokoh ulama yang kenamaan. Beliau sering memberitahukan apa yang tersembunyi dalam hati murid-murid beliau.</p>
<p>Salah seorang murid beliau yang bernama <span style="font-weight:bold;">Soleh Bahramil</span> berkata: “Pada suatu kali ketika aku sedang sibuk berzikir di tengah majlis beliau, tibatiba di hatiku tergerak sesuatu yang mengganggu zikirku. Beliau menoleh padaku sambil berkata: “Berzikir itu jauh lebih penting dari apa yang tergerak di hatimu”.</p>
<p><span id="more-642"></span>Seorang wanita yang bernama <span style="font-weight:bold;">Nahyah binti Mubarak Barasyid</span> pernah tergerak dalam hatinya: “Jika hajatku dikabulkan oleh Allah, ia akan membuatkan sehelai selimut dengan tangannya sendiri untuk <span style="font-weight:bold;">Sayid Ali bin Abu Bakar As-Seggaf</span>. Setelah Allah mengabulkan ia terlupa dengan niat dalam hatinya. Sayid Abu Bakar As-Seggaf mengutus salah seorang untuk mengingatkan niat yang tersimpan dalam hati wanita itu. Dengan malu wanita itu membuatkannya segera selimut yang akan dihadiahkan pada Sayid Ali.</p>
<p>Seorang murid beliau berkata: “Pernah aku keluar dari kota Tarim untuk menghantarkan seorang temanku yang hendak berpergian. Temanku itu menitipkan padaku seratus Uqiyah. Dalam perjalananku pulang ke Tarim, wang seratus Uqiyah itu terjatuh ke tengah jalan tanpa kuketahui. Aku datang menemui Sayid Ali, kuadukan kejadian itu. Jawab beliau: “Kembalilah kamu di jalanan yang telah kamu melalui sebelumnya”. Waktu aku keluar menyusuri jalanan yang kulalui, kudapatkan wang seratus Uqiyah itu berada di bawah sebuah tembok di pinggir jalanan.</p>
<p>Seorang muridnya pernah berkata: “Pernah sebiji mata anak perempuan saudaraku terkeluar. Aku datang kepada Sayid Ali As-Seggaf dengan membawa anak perempuan yang keluar matanya itu. Beliau pegang mata itu kemudian dikembalikan pada tempatnya semula. Dengan izin Allah mata yang keluar itu sembuh seperti semula. Aku minta pada beliau mendoakan untuk anak wanita itu agar dapat cepat kahwin. Dengan izin Allah wanita itu segera dipinang orang setelah hidup membujang dalam waktu yang lama”.</p>
<p>Salah seorang kawan beliau berkata: “Pernah aku kehilangan perhiasan yang dibuat dari emas. Aku datang menghadap Sayid Ali As-Seggaf minta doa agar perhiasanku yang hilang itu kutemukan kembali. Beliau berdoa. Waktu pagi hari anehnya kudapati perhiasan itu berada di bawah pohon kurma”.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Sayid Ali bin Abu Bakar As-Seggaf</span> wafat pada tahun <span style="font-weight:bold;">895 H</span>. Jenazahnya dimakamkan di perkuburan Zanbal, Hadramaut.</p>
<p><span style="font-weight:bold;font-style:italic;">Dipetik dari: Kemuliaan Para Wali &#8211; karangan Zulkifli Mat Isa, terbitan Perniagaan Jahabersa</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=642&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-abu-bakar-as-seggaf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Habib Ali Bin Ahmad Bin Zein Aidid</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-ahmad-bin-zein-aidid/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-ahmad-bin-zein-aidid/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 10:44:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alawiyyin]]></category>
		<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=634</guid>
		<description><![CDATA[Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya adalah Pulau Panggang, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Disanalah Al-Habib Ali bin Ahmad bin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=634&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya adalah <span style="font-weight:bold;">Pulau Panggang</span>, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.</p>
<p>Disanalah <span style="font-weight:bold;">Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid</span>, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulang Panggang. Ia adalah ulama dan muballigh asal Hadramaut yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulang Panggang dan sekitarnya. Pada abad ke-18 ia bertandang ke Jawa untuk berda’wah bersama dengan empat kawannya :</p>
<div style="text-align:justify;">
<p><span id="more-634"></span><span style="font-weight:bold;">1. Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-athas, Kramat Empang Bogor.</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">2. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya.</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">3. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya.</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">4. Al-Habib Salim Al-Athas, Malaysia.</span></p>
<p><span style="font-weight:bold;">Al-Maghfurlah Habib Ali ke Batavia</span>, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri diatas. Al-Maghfurlah berda’wah dari Pulau Seribu sampai dengan Wilayah Pulau Sumatera yaitu Palembang.</p>
<p>Di Batavia , Almaghfurlah Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan Syarifah setempat, <span style="font-weight:bold;">Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi</span>. Dari Perkawinannya itu dikaruniai seorang putera bernama <span style="font-weight:bold;">Hasyim bin Ali Aidid.</span></p>
<p>Suatu hari Almaghfurlah mendengar kabar, disebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan jauh dari da’wah Islam, yaitu Pulau Panggang. Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Al-Maghfurlah sampai di Pasar Ikan hendak menyeberang ternyata tidak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdo’a kepada Allah SWT, tak lama kemudian muncullah kurang lebih seribu ekor ikan lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, kemudian ikan lumba-lumba mengiring beliau menuju Pulang Panggang. Demikianlah salah satu karomah Almaghfurlah Habib Ali, menurut cerita dari <span style="font-weight:bold;">Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-athas</span> kepada salah satu muridnya Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Alhaddad bahwa setiap Habib Ali hendak berda’wah beliau berdiri ditepi pantai Pasar Ikan dengan mengangkat tangan sambil bermunajat kepada Allah SWT, maka datang ikan lumba-lumba kurang lebih seribu ekor mengiring beliau disamping kanan, kiri, depan, belakang beliau dan mengantar sampai ketempat tujuan untuk berda’wah.</p>
<p>Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi jika da’wahnya mudah diterima oleh warga Pulau Panggang dan sekitarnya. Ia mengajar dan berda’wah sampai kepelosok pulau. Bahkan sampai ke Palembang, Singapura dan Malaka.</p>
<p>Karomah lainnya, suatu malam, usai berda’wah di Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya dihadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Almaghfurlah Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut. Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Almaghfurlah Habib Ali dan rombongan selamat sampai di rumahnya di Pulau Panggang.</p>
<p>Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Almaghfurlah Habib Ali menangis, lantas berdo’a agar seluruh penduduk Pulau Panggang diselamatkan . Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.</p>
<p>Suatu malam, ia mendapat isyarat sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya ia ingin ke Palembang, namun dibatalkan. Dan kepada santrinya ia menyatakan, “ saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan, keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H./1892 M. ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau Panggang.</p>
<p>Sesungguhnya, Jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk diketemukan Istri dan anaknya serta dimakamkan disana. Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknai peristiwa itu sebagai kehendak almarhum di makamkan di Pulau tersebut. Keesokan harinya setelah Almaghfurlah Habib Ali dimakamkan, beberapa orang dari penduduk Pulau Panggang memberi khabar kepada istrinya Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi, istrinya menjawab “ Yah, saya sudah tahu, Habib Ali tadi telah datang memberi kabar kepada saya tentang meninggalnya dia dan dimakamkan di Pulau Panggang “.</p>
<p>Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid adalah seorang ulama yang langka, yang berani merintis da’wah di kawasan terpencil, dan berhasil. Demikianlah sekilas dari riwayat Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/634/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/634/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=634&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/28/al-habib-ali-bin-ahmad-bin-zein-aidid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Abdullah Al-Khuwarizmi</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/abdullah-al-khuwarizmi/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/abdullah-al-khuwarizmi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 18:30:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=631</guid>
		<description><![CDATA[Dia bernama Abdullah Muhammad bin Musa Al-Khuwarizmi. Dilahirkan pada tahun 164 H (780 M) di daerah Khuwarizm di Asia Tengah (Anatolia) dan wafat di Baghdad pada tahun 232 H (847 M). Al-Khuwarizmi memiliki memiliki beberapa hasil penelitian ilmiah dan buku-buku yang dikarang di bidang matematika (menghitung, aljabar, dan geometri), astronomi, geografi, dan musik. Dia mendapatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=631&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-632" title="Al khuwarizmi1" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/al-khuwarizmi1.jpg?w=300&#038;h=199" alt="Al khuwarizmi1" width="300" height="199" />Dia bernama <span style="font-weight:bold;">Abdullah Muhammad bin Musa Al-Khuwarizmi</span>. Dilahirkan pada tahun 164 H (780 M) di daerah Khuwarizm di Asia Tengah (Anatolia) dan wafat di Baghdad pada tahun 232 H (847 M).</p>
<p>Al-Khuwarizmi memiliki memiliki beberapa hasil penelitian ilmiah dan buku-buku yang dikarang di bidang matematika (menghitung, aljabar, dan geometri), astronomi, geografi, dan musik. Dia mendapatkan kepercayaan dari dua khalifah; Al-Ma’mun dan Al-Watsiq, sehingga keduanya menyerahkan tugas-tugas penting kepadanya dan menugaskannya untuk mengadakan riset-riset ilmiah.</p>
<p><span id="more-631"></span><span style="font-weight:bold;">Penemuan ilmu Al-Jabar</span></p>
<p>Ilmu Aljabar adalah ilmu peninggalan Arab-Islam dan karya dari Al-Khuwarizmi. Dia menggagas ilmu ini dan menjadikannya sebagai ilmu tersendiri yang terpisah dari ilmu hitung. Asal mula penamaannya adalah bahwa ketika dia menggagas ilmu Aljabar, dia menulis sebua buku penting yang berjudul Aljabar wal Muqabalah. Akan tetapi kata yang pertama lebih identik dengan nama ilmu ini, sehingga disebut Aljabar.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Penemuan di bidang Trigonometri</span></p>
<p>Al-Khuwarizmi mempelajari hitungan trigonometri dan mengadakan penelitian tentangnya. Dia adalah orang yang pertama kali membuat dan menerbitkan tabel trigonometri Arab, yang di dalamnya juga terdapat sinus dan tan. Tabel-tabel ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad kedua belas Masehi.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Penemuan di bidang ilmu Falak (Astronomi)</span></p>
<p>Al-Khuwarizmi ikut andil dalam mengukur lingkaran bumi yang dilakukan pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Pengukuran ini dilakukan dengan cara menggunakan ilmu astronomi. Untuk tujuan itulah dibentuk dua tim yang terdiri dari para ilmuwan, salah satunya mengarah ke utara dan satunya mengarah ke selatan pada garis lintang yang sama. Setelah itu, masing-masing tim menentukan garis bujur di tempat tibanya dengan cara mengukur ketinggian bintang kutub. Dari dua pengukuran itu, para ilmuwan muslim kemudian menghitung derajatnya yang pada gilirannya dipergunakan untuk menghitung lingkaran bumi dan separuh wilayah bumi dengan tingkat ketelitian lebih tinggi.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Penemuan di bidang ilmu Geografi</span></p>
<p>Dalam ilmu geografi, Al-Khuwarizmi menulis buku “Shuratul Ardh” yang membenarkan pendapat Ptolemaeus dan menulis peta yang lebih detil dari pada peta yang ditulis oleh Ptolemaeus. Dia juga menulis buku berjudul “Taqwimul Buldan.” Seorang orientalis Italia, Carlo Nallino mengakui bahwa buku-buku yang ditulis oleh Al-Khuwarizmi dalam ilmu geografi dan astronomi bukan hanya sekedar kutipan dari ilmu geografi bangsa Yunani, akan tetapi dia telah mampu membuat membuat ilmu geografi sebagai ilmu yang berdiri sendiri.</p>
<p><span style="font-size:x-small;"><span style="font-weight:bold;">(Disarikan dari buku 147 Ilmuwan Sepanjang Sejarah Islam karya Muhammad Gharib Gaudah)</span></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/631/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/631/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=631&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/abdullah-al-khuwarizmi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/al-khuwarizmi1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Al khuwarizmi1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Harun Ar Rasyid Amir Para Khalifah Abbasiyah</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/harun-ar-rasyid-amir-para-khalifah-abbasiyah/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/harun-ar-rasyid-amir-para-khalifah-abbasiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 18:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Dalam usia yang relatif muda, Harun Ar-Rasyid yang dikenal berwibawa sudah mampu menggerakkan 95 ribu pasukan beserta para pejabat tinggi dan jenderal veteran. Era keemasan Islam (The Golden Ages of Islam) tertoreh pada masa ke pemimpinannya. Perhatiannya yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=628&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-629" title="peta khalifah harun arrasyid" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/peta-khalifah-harun-arrasyid.png?w=300&#038;h=160" alt="peta khalifah harun arrasyid" width="300" height="160" />Dalam usia yang relatif muda, <strong>Harun Ar-Rasyid</strong> yang dikenal berwibawa sudah mampu menggerakkan 95 ribu pasukan beserta para pejabat tinggi dan jenderal veteran.</p>
<p>Era keemasan Islam <strong>(The Golden Ages of Islam)</strong> tertoreh pada masa ke pemimpinannya. Perhatiannya yang begitu besar terhadap kesejahteraan rakyat serta kesuksesannya mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, tekonologi, ekonomi, perdagangan, politik, wilayah kekuasaan, serta peradaban Islam telah membuat Dinasti Abbasiyah menjadi salah satu negara adikuasa dunia di abad ke-8 M.</p>
<p><span id="more-628"></span>Amir para khalifah Abbasiyah itu bernama Harun Ar-Rasyid. Dia adalah raja agung pada zamannya. Konon, kehebatannya hanya dapat dibandingkan dengan Karel Agung (742 M &#8211; 814 M) di Eropa. Pada masa kekuasaannya, Baghdad ibu kota Abbasiyah &#8211; menjelma menjadi metropolitan dunia. Jasanya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban hingga abad ke-21 masih dirasakan dan dinikmati masyarakat dunia.</p>
<p>Figur Harun Ar-Rasyid yang legendaris ini terlahir pada 17 Maret 763 M di Rayy, Teheran, Iran. Dia adalah putera dari Khalifah Al-Mahdi bin Abu Ja’far Al-Mansur khalifah Abbasiyah ketiga. Ibunya bernama Khaizuran seorang wanita sahaya dari Yaman yang dimerdekakan dan dinikahi Al-Mahdi. Sang ibu sangat berpengaruh dan berperan besar dalam kepemimpinan Al-Mahdi dan Harun Ar-Rasyid.</p>
<p>Sejak belia, Harun Ar-Rasyid ditempa dengan pendidikan agama Islam dan pemerintahan di lingkungan istana. Salah satu gurunya yang paling populer adalah Yahya bin Khalid. Berbekal pendidikan yang memadai, Harun pun tumbuh menjadi seorang terpelajar. Harun Ar-Rasyid memang dikenal sebagai pria yang berotak encer, berkepribadian kuat, dan fasih dalam berbicara.</p>
<p>Ketika tumbuh menjadi seorang remaja, Harun Ar-Rasyid sudah mulai diterjunkan ayahnya dalam urusan pemerintahan. Kepemimpinan Harun ditempa sang ayah ketika dipercaya memimpin ekspedisi militer untuk menaklukk Bizantium sebanyak dua kali. Ekspedisi militer pertama dipimpinnya pada 779 M &#8211; 780 M. Dalam ekspedisi kedua yang dilakukan pada 781-782 M, Harun memimpin pasukannya hingga ke pantai Bosporus. Dalam usia yang relatif muda, Harun Ar-Rasyid yang dikenal berwibawa sudah mampu menggerakkan 95 ribu pasukan beserta para pejabat tinggi dan jenderal veteran. Dari mereka pula, Harun banyak belajar tentang strategi pertempuran.</p>
<p>Sebelum dinobatkan sebagai khalifah, Harun didaulat ayahnya menjadi gubernur di As-Siafah tahun 779 M dan di Maghrib pada 780 M. Dua tahun setelah menjadi gubernur, sang ayah mengukuhkannya sebagai putera mahkota untuk menjadi khalifah setelah saudaranya, Al-Hadi. Pada 14 Septempber 786 M, Harun Ar-Rasyid akhirnya menduduki tahta tertinggi di Dinasti Abbasiyah sebagai khalifah kelima.</p>
<p>Harun Ar-Rasyid berkuasa selama 23 tahun (786 M &#8211; 809 M). Selama dua dasawarsa itu, Harun Al-Rasyid mampu membawa dinasti yang dipimpinnya ke peuncak kejayaan. Ada banyak hal yang patut ditiru para pemimpin Islam di abad ke-21 ini dari sosok raja besar Muslim ini. Sebagai pemimpin, dia menjalin hubungan yang harmonis dengan para ulama, ahli hukum, penulis, qari, dan seniman.</p>
<p>Ia kerap mengundang para tokoh informal dan profesional itu keistana untuk mendiskusikan berbagai masalah. Harun Ar-Rasyid begitu menghagai setiap orang. Itulah salah satu yang membuat masyarakat dari berbagai golongan dan status amat menghormati, mengagumi, dan mencintainya. Harun Ar-Rasyid adalah pemimpin yang mengakar dan dekat dengan rakyatnya. Sebagai seorang pemimpin dan Muslim yang taat, Harun Ar-Rasyid sangat rajin beribadah. Konon, dia terbiasa menjalankan shalat sunat hingga seratus rakaat setiap harinya. Dua kali dalam setahun, khalifah kerap menunaikan ibadah haji dan umrah dengan berjalan kaki dari Baghdad ke Makkah. Ia tak pernah lupa mengajak para ulama ketika menunaikan rukun Islam kelima.</p>
<p>Jika sang khalifah tak berkesempatan untuk menunaikan ibadah haji, maka dihajikannya sebanyak tiga ratus orang di Baghdad dengan biaya penuh dari istana. Masyarakat Baghdad merasakan dan menikmati suasana aman dan damai di masa pemerintahannya. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Harus Ar-Rasyid tak mengenal kompromi dengan korupsi yang merugikan rakyat. Sekalipun yang berlaku korup itu adalah orang yang dekat dan banyak berpengaruh dalam hidupnya. Tanpa ragu-ragu Harun Ar- Rasyid memecat dan memenjarakan Yahya bin Khalid yang diangkatnya sebagai perdana menteri (wazir).</p>
<p>Harun pun menyita dan mengembalikan harta Yahya senilai 30,87 juta dinar hasil korupsi ke kas negara. Dengan begitu, pemerintahan yang dipimpinnya bisa terbebas dari korupsi yang bisa menyengsarakan rakyatnya. Pemerintahan yang bersih dari korupsi menjadi komitmennya. Konon, Harun Ar-Rasyid adalah khalifah yang berprawakan tinggi, bekulit putih, dan tampan. Di masa kepemimpinannya, Abbasiyah menguasai wilayah kekuasaan yang terbentang luas dari daerah-daerah di Laut Tengah di sebelah Barat hingga ke India di sebelah Timur. Meski begitu, tak mudah bagi Harun Ar-Rasyid untuk menjaga keutuhan wilayah yang dikuasainya.</p>
<p>Berbagai pemberontakan pun tercatat sempat terjadi di era kepemimpinannya. Pemberontakan yang sempat terjadi di masa kekuasaannya antara lain; pemberontakan Khawarij yang dipimpin Walid bin Tahrif (794 M); pemberontakan Musa Al-Kazim (799 M); serta pemberontakan Yahya bin Abdullah bin Abi Taglib (792 M). Salah satu puncak pencapaian yang membuat namanya melegenda adalah perhatiannya dalam bidang ilmu pengetahuan dan peradaban. Di masa kepemimpinannya terjadi penerjemahan karya-karya dari berbagai bahasa.</p>
<p>Inilah yang menjadi awal kemajuan yang dicapai Islam. Menggenggam dunia dengan ilmu pengetahuan dan perabadan. Pada era itu pula berkembang beragam disiplin ilmu pengetahuan dan peradaban yang ditandai dengan berdirinya Baitul Hikmah &#8211; perpustakaan raksasa sekaligus pusat kajian ilmu pengetahuan dan peradaban terbesar pada masanya. Harun pun menaruh perhatian yang besar terhadap pengembangan ilmu keagamaan. Sang khalifah tutup usia pada 24 Maret 809 M pada usia yang terbilang muda 46 tahun. Meski begitu pamor dan popularitasnya masih tetap melegenda hingga kini. Namanya juga diabadikan sebagai salah satu tokoh dalam kitab 1001 malam yang amat populer. Pemimpin yang baik akan tetap dikenang sepanjang masa.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Pemimpin yang Prorakyat</span></p>
<p>Di era modern ini begitu sulit menemukan pemimpin yang benar-benar mencintai dan berpihak kepada rakyatnya. Sosok pemimpin yang mencintai rakyat pastilah akan dicintai dan dikagumi rakyatnya. Salah seorang pemimpin Muslim yang terbilang langka itu hadir di abad ke-8 M. Pemimpin yang pro rakyat itu bernama Khalifah Harun Ar-Rasyid.</p>
<p>Sang khalifah benar-benar memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan rakyatnya. Guna meningkatkan kesejahteraan rakyat dan negara, Harun Ar-Rasyid berupaya dengan keras memajukan perekonomian serta perdagangan. Pertanian juga berkembang dengan begitu pesat, lantaran khalifah begitu mena ruh perhatian yang besar dengan membangun saluran irigasi. Langkah pemerintahan Harun Ar-Rasyid yang serius ingin menyejahterakan rakyatnya itu mendapat dukungan rakyatnya. Kemajuan dalam sektor perekonomian, perdagangan dan pertanian itu membuat Baghdad menjadi pusat perdagangan terbesar dan teramai di dunia saat itu.</p>
<p>Dengan kepastian hukum serta keamanan yang terjamin, berbondong-bondong para saudagar dari berbagai penjuru dunia bertransaksi melakukan pertukaan barang dan uang di Baghdad. Negara pun memperoleh pemasukan yang begitu besar dari perekonomian dan perdagangan itu serta tentunya dari pungutan pajak. Pemasukan kas negara yang begitu besar itu tak dikorup sang khalifah. Harun Ar-Rasyid menggunakan dana itu untuk pembangunan dan menyejahterakan rakyatnya. Kota Baghdad pun dibangun dengan indah dan megah. Gedunggedung tinggi berdiri, sarana peribadatan tersebar, sarana pendidikan pun menjamur, dan fasilitas kesehatan gratis pun diberikan dengan pelayanan yang prima.</p>
<p>Sarana umum lainnya seperti kamar mandi umum, taman, jalan serta pasar juga dibangun dengan kualitas yang sangat baik. Khalifah pun membiayai pengembangan ilmu pengetahuan di bidang penerjemahan dan serta penelitian. Negara menempatkan para ulama dan ilmuwan di posisi yang tinggi dan mulia. Mereka dihargai dengan memperoleh gaji yang sangat ting gi. Setiap tulisan dan penemuan yang dihasilkan ulama dan ilmuwan dibayar mahal oleh negara.</p>
<p>Sangat pantas bila keluarga khalifah dan pejabat negara lainnya hidup dalam segala kemewahan pada zamannya. Sebab, kehidupan rakyatnya juga berada dalam kemakmuran dan kesejahteraan. Tak seperti pemimpin kebanyakan yang hidup dengan kemewahan di atas penderitaan rakyatnya. Sampai kapan pun, sosok Harun Ar-Rasyid layak ditiru dan dijadikan panutan para pemim &#8211; pin dan calon pemimpin yang ingin mencitai dan berpihak pada rakyatnya.</p>
<p>Jejak Hidup Sang Khalifah Agung Tahun 763 M : Pada 17 Maret, Harun terlahir di Rayy.<br />
Tahun 780 M : Memimpin pasukan militer melawan Bizantium.<br />
Tahun 782 M: Kembali memimpin pa &#8211; suk an melawan Bizantium hingga ke Bos porus.<br />
Tahun 786 M: 14 September saudaranya Al-Hadi &#8211; khalifah keempat meninggal dunia.<br />
Tahun 791 M: Harun kembali berperang melawan Bizantium.<br />
Tahun 795 M: Harun meredam pembenrontakan Syiah dan memenjarakan<br />
Musa Al-Kazim. Tahun 796 M: Harun memindahkan istana dan pusat pemerintahan dari Baghdad ke Ar-Raqqah.<br />
Tahun 800 M: Harun mengangkat Ibrahim ibnu Al-Aghlab sebagai gubernur Tunisia.<br />
Tahun 802 M: Harun menghadiahkan dua gajah albino ke Charlemagne sebagai hadiah diplomatik.<br />
Tahun 803 M: Yahya bin Khalid (perdana menteri yang dipecat karena korupsi meninggal dunia.<br />
Tahun 807 M: Kekuatan Harun mengusai Siprus.<br />
Tahun 809 M: Harun meninggal dunia ketika melakukan perjalanan di bagian timur wilayah kekuasaannya.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Penulis : heri ruslan</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="http://republika.co.id/berita/37226/Harrun_Ar_Rasyid_Amir_Para_Khalifah_Abbasiyah">http://republika.co.id</a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/628/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/628/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=628&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/harun-ar-rasyid-amir-para-khalifah-abbasiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/peta-khalifah-harun-arrasyid.png?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">peta khalifah harun arrasyid</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Umar Bin Abdul Aziz-Khalifah Pilihan Dinasti Umayyah</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/umar-bin-abdul-aziz-khalifah-pilihan-dinasti-umayyah/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/umar-bin-abdul-aziz-khalifah-pilihan-dinasti-umayyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 18:17:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=624</guid>
		<description><![CDATA[Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Tak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai ‘khalifah kelima’ yang bergelar Amirul Mukminin, setelah Khulafa Ar-Rasyidin. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan yang mengharumkan nama Islam. Khalifah pilihan itu begitu mencintai dan memperhatikan nasib rakyat yang dipimpinnya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=624&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-625" title="Umar bin abdul aziz" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/umar-bin-abdul-aziz.jpg?w=200&#038;h=200" alt="Umar bin abdul aziz" width="200" height="200" />Adil, jujur, sederhana dan bijaksana. Itulah ciri khas kepemimpinan <strong>Khalifah Umar bin Abdul Aziz</strong>. Tak salah bila sejarah Islam menempatkannya sebagai ‘khalifah kelima’ yang bergelar Amirul Mukminin, setelah Khulafa Ar-Rasyidin. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah mampu menorehkan tinta emas kejayaan yang mengharumkan nama Islam.</p>
<p>Khalifah pilihan itu begitu mencintai dan memperhatikan nasib rakyat yang dipimpinnya. Ia beserta seluruh keluarganya rela hidup sederhana dan menyerahkan harta kekayaannya ke baitulmal (kas negara), begitu diangkat menjadi khalifah. Khalifah Umar II pun dengan gagah berani serta tanpa pandang bulu memberantas segala bentuk praktik korupsi.</p>
<p><span id="more-624"></span>Tanpa ragu, Umar membersihkan harta kekayaan para pejabat dan keluarga Bani Umayyah yang diperoleh secara tak wajar. Ia lalu menyerahkannya ke kas negara. Semua pejabat korup dipecat. Langkah itu dilakukan khalifah demi menyejahterakan dan memakmurkan rakyatnya. Baginya, jabatan bukanlah alat untuk meraup kekayaan, melainkan amanah dan beban yang harus ditunaikan secara benar.</p>
<p>Tak seperti penguasa kebanyakan yang begitu ambisi mengincar kursi kekuasaan, Umar justru menangis ketika tahta dianugerahkan kepadanya. Meski Umar bukan berasal dari trah Bani Umayyah, keadilan dan kearifannya selama menjabat gubernur telah membuat Khalifah Sulaiman terkesan. Maka di akhir hayatnya, Sulaiman dalam surat wasiatnya memilih Umar bin Abdul Aziz sebagai penggantinya.</p>
<p>Setelah Khalifah Sulaiman tutup usia, Umar dilantik sebagai khalifah pada 717 M/99 H. Seluruh umat Islam di kota Damaskus pun berkumpul di masjid menantikan pengganti khalifah. Penasihat kerajaan Raja’ bin Haiwah pun segera berdiri dan membacakan surat wasiat Khalifah Sulaiman. ‘’Bangunlah wahai Umar bin Abdul- Aziz, sesungguhnya nama engkaulah yang tertulis dalam surat ini,’’ ungkap Raja’.</p>
<p>Umar pun terkejut mendengar keputusan itu. Ia pun segera bangkit dan dengan rendah hati berkata, ‘’Wahai manusia, sesungguhnya jabatan ini diberikan kepadaku tanpa bermusyawarah terlebih dulu dan tak pernah aku memintanya. Sesungguhnya aku mencabut bai’at yang ada dilehermu dan pilihlah siapa yang kalian kehendaki.’’ Umat Islam yang berada di masjid menolak untuk mencabut ba’iatnya.</p>
<p>Semua bersepakat dan meminta Umar untuk menjadi khalifah. Umar pun akhirnya menerima ba’iat itu dengan berat hati. Ia menangis karena takut kepada Sang Khalik dengan ujian yang diterimanya. Beragam fasilitas dan keistimewaan yang biasa dinikmati khalifah ditolaknya. Umar memilih untuk tinggal di rumahnya.</p>
<p>Meski berat hati menerima jabatan khalifah, Umar menunaikan kewajibannya dengan penuh tanggung jawab. Keluarganya mendukung dan selalu mengingatkan Umar untuk bekerja keras memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Sang anak, Abdul-Malik, tak segan-segan untuk menegur dan mengingatkan ayahnya agar bekerja keras memperhatikan negara dan rakyat yang dipimpinnya.</p>
<p>Selepas diangkat menjadi khalifah, Umar yang kelelahan mengurus pemakaman Khalifah Sulaiman berniat untuk tidur. ‘’Apakah yang sedang engkau lakukan wahai Amirul Mukminin?’’ ujar Abdul Malik. ‘’Wahai anakku, ayahmu letih mengurusi jenazah bapak saudaramu dan ayahmu tidak pernah merasakan keletihan seperti ini,’’ jawab Umar. ‘’Lalu apa yang akan engkau lakukan ayahanda?’’ tanya sang anak. ‘’Ayah akan tidur sebentar hingga masuk waktu zuhur, kemudian ayah akan keluar untuk shalat bersama rakyat,’ ucap Umar.</p>
<p>Lalu Abdul-Malik berkata, ‘’Wahai ayah, siapa yang menjamin engkau akan masih hidup sampai waktu zuhur? Padahal sekarang engkau adalah Amirul Mukminin yang bertanggung jawab untuk mengembalikan hak-hak orang yang dizalimi.’’ Umar pun segera bangkit dari peraduan sembari berkata, ‘’Segala puji bagi Allah yang mengeluarkan dari keturunanku, orang yang menolong aku di atas agamaku.’’</p>
<p>Umar pun bekerja keras membaktikan dirinya bagi rakyat dan umat. Pada era kepemimpinannya, Dinasti Umayyah meraih puncak kejayaan. Sayang, dia hanya memimpin dalam waktu sekejap saja, yakni dua tahun. Meski bukan berasal dari keturunan Umayyah, darah kepemimpinan memang mengalir dalam tubuh Umar bin Abdul Aziz. Ia ternyata masih keturunan dari Khalifah Umar bin Khattab. Umar bin Abdul Aziz terlahir pada tahun 63 H/ 682 di Halwan sebuah perkampungan di Mesir. Namun ada pula yang menyebutkan, Umar lahir di Madinah.</p>
<p>Ayahnya adalah Abdul-Aziz bin Marwan, Gubernur Mesir dan adik dari Khalifah Abdul-Malik. Sedangkan ibunya bernama Ummu Asim binti Asim. Dari Ummu Asim-lah, darah Umar bin Khattab mengalir ditubuh Umar bin Abdul Aziz. Umar bin Khtattab meminta anak laki-lakinya Asim untuk menikahi gadis miskin dan jujur. Dari hasil pernikahan itu lahirlah seorang anak perempuan bernama Laila atau Ummu Asim.</p>
<p>Ummu Asim lalu menikah dengan Abdul-Aziz bin Marwan dan lahirlah Umar bin Abdul-Aziz. Sosok pemimpin Umar bin Abdul Aziz yang adil dan bijaksana sudah sempat dilontarkan Umar bin Khattab. Sang khalifah kedua itu sempat bermimpi melihat seorang pemuda dari keturunannya, bernama Umar, dengan kening yang cacat karena luka. Pemuda itu kelak akan menjadi pemimpin umat Islam.</p>
<p>Mimpi itu akhirnya terbukti. Umar bin Abdul Aziz sewaktu kecil wajahnya memang sempat tertendang kuda, sehingga bagian keningnya mengalami luka. Umar kecil dibesarkan di Madinah. Ia dibimbing sang paman bernama Ibnu Umar, salah seorang periwayat hadis terbanyak. Umar tinggal di Madinah hingga sang ayah wafat.</p>
<p>Umar lalu dipanggil Khalifah Abdul Malik ke Damaskus dan menikah dengan anaknya bernama Fatimah. Pada 706 H, Umar diangkat menjadi Gubernur Madinah oleh Khalifah Al- Walid. Saat memimpin Madinah, Umar sempat memugar dan memperluas bangunan Masjid Nabawi. Sejak masa kepemimpinannya, Masjid Nabawi memiliki menara dan kubah. Umar tutup usia pada tahun 101 H/720 M. Syahdan, dia meninggal karena diracun. Kejujuran, keadilan, kebijaksanaan serta kesederhanaan Umar bin Abdul Aziz dalam memimpin rakyat dan umat sudah sepantasnya ditiru oleh para pemimpin Muslim.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Pembaruan DI Masa Khalifah Umar II</span></p>
<p>Masa kepemimpinannya tak berlangsung lama, namun kejayaan Dinasti Umayyah justru tercapai pada era Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Setelah membersihkan harta kekayaan tak wajar di kalangan pejabat dan keluarga bani Umayyah, Khalifah Umar melakukan reformasi dan pembaruan di berbagai bidang.</p>
<p>Di bidang fiskal, misalnya, Umar memangkas pajak dari orang Nasrani. Tak cuma itu, ia juga menghentikan pungutan pajak dari mualaf. Kebijakannya itu telah mendongkrak simpati dari kalangan non-Muslim. Sejak kebijakan itu bergulir, orangorang non-Muslim pun berbondongbondong memeluk agama Islam.</p>
<p>Khalifah Umar II pun menggunakan kas negara untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya. Berbagai fasilitas dan pelayanan publik dibangun dan diperbaiki. Sektor pertanian terus dikembangkan melalui perbaikan lahan dan saluran irigasi.</p>
<p>Sumur-sumur baru terus digali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih. Jalan-jalan di kota Damascus dan sekitarnya dibangun dan dikembangkan. Untuk memuliakan tamu dan para musafir yang singgah di Damscus, khalifah membangun penginapan. Sarana ibadah seperti masjid diperbanyak dan diperindah. Masyarakat yang sakit disediakan pengobatan gratis. Khalifah Umar II pun memperbaiki pelayanan di dinas pos, sehingga aktivitas korespondesi berlangsung lancar.</p>
<p>Begitu dekatnya Khalifah Umar II dihati rakyat membuat kondisi keamanan semakin kondusif. Kelompok Khawarij dan Syiah yang di era sebelumnya kerap memberontak berubah menjadi lunak. Umar II tak menghadapi perbedaan dengan senjata dan perang, melainkan mengajak kubu yang berbeda pendapat itu melalui diskusi.</p>
<p>Pendekatan persuasif itu berhasil. Golongan Khawarij dan Syiah ternyata taat pada penguasa dan tak menghentikan pemberontakan. Sebagai pemimpin rakyat dan umat, Umar II melarang masyarakatnya untuk mencaci atau menghujat Ali bin Abi Thalib dalam khutbah atau pidato. Kebijakan itu mengundang simpati kaum Syiah.</p>
<p>Hal itu begitu kontras bila dibandingkan dengan khalifah sebelumnya yang selalu menghujat imam kaum Syiah. Khalifah terdahulu menerapkan kebijakan itu untuk menjauhkan rakyatnya dari pengaruh Syiah. Khalifah Umar II telah berhasil mendamaikan perseteruan antara Syiah dan Sunni &#8211; sesuatu yang boleh dibilang hampir mustahil tercapai. Di wilayah-wilayah yang ditaklukkan, Khalifah Umar juga mengubah kebijakan.</p>
<p>Ia mengganti peperangan dengan gerakan dakwah Islam. Strategi itu ternyata benarbenar jitu. Pendekatan persuasif itu mengundang simpati dari pemeluk agama lain. Secara sadar dan ikhlas mereka berbondong- bondong memilih Islam sebagai agama terbaik. Raja Sind amat terkagum- kagum dengan kebijakan itu. Ia pun mengucapkan dua kalimah syahadat dan diikuti rakyatnya. Masyarakat yang tetap menganut agama non-Islam tetap dilindungi namun dikenakan pajak yang tak memberatkan.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Cermin Kesahajaan Sang Khalifah</span></p>
<p>Saat Umar II terbaring sakit menjelang kematiannya, para menteri kerajaan sempat meminta agar isteri Amirul Mukminin untuk mengganti pakaian sang khalifah. Dengan rendah hati puteri Khalifah Abdul Malik berkata, ‘’Cuma itu saja pakaian yang dimiliki khalifah.’’ Hal itu begitu kontras dengan keadaan rakyatnya yang sejahtera dan kaya raya.<br />
Khalifah pilihan itu memilih hidup bersahaja. Menjelang akhir hayatnya khalifah ditanya, ‘’Wahai Amirul Mukminin, apa yang akan engkau wasiatkan buat anakanakmu?’’ Khalifah balik bertanya, Apa yang ingin kuwasiatkan? Aku tidak memiliki apa-apa.’’ Umar melanjutkan, ‘’Jika anak-anakku orang shaleh, Allah-lah yang mengurusnya.’’ Lalu khalifah segera memanggil buah hatinya, ‘’Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama, menjadikan kalian semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka.</p>
<p>Kedua,kalian miskin seperti sekarang dan ayah masuk ke dalam surga. Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga.’’Umar berhasil menyejahterakan rakyat di seluruh wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah. Ibnu Abdil Hakam meriwayatkan, Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkat, ‘’Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikan kepada orang-orang miskin. Namun saya tidak menjumpai seorangpun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan.’’</p>
<p>Abu Ubaid mengisahkan, Khalifah Umar II mengirim surat kepada Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak agar membayar semua gaji dan hak rutin di provinsi itu. ‘’Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka. Namun di Baitul Mal masih banyak uang. Khalifah Umar memerintahkan. ‘’Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah ia uang untuk melunasi utangnya.’’</p>
<p>Abdul Hamid kembali menyurati Kalifah Umar. ‘’Saya sudah membayar utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.’’ Khalifah memerintah lagi. ‘’Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya.’’ Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, ‘’Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih banyak uang.’’ Adakah pemimpin seperti itu saat ini?</p>
<p><span style="font-weight:bold;">Penulis : heri ruslan</span><br />
<span style="font-size:x-small;"><a href="http://republika.co.id/berita/37239/Umar_Bin_Abdul_Aziz_Khalifah_Pilihan_Dinasti_Umayyah">http://republika.co.id</a></span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/624/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/624/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=624&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/umar-bin-abdul-aziz-khalifah-pilihan-dinasti-umayyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/umar-bin-abdul-aziz.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Umar bin abdul aziz</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Syekh Zainuddin Al Malibari &#8211; Ulama Besar dari Negeri Bollywood</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/syekh-zainuddin-al-malibari-ulama-besar-dari-negeri-bollywood/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/syekh-zainuddin-al-malibari-ulama-besar-dari-negeri-bollywood/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 18:14:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Tak banyak riwayat yang menjelaskan ketokohan dari Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari, ulama asal Malabar, India Selatan ini. Kalau ada, itu hanya sebatas mengungkapkan keterangannya dalam berbagai karya yang ditulisnya. Tak diketahui secara persis, kapan Syekh Zainuddin Al-Malibari lahir. Bahkan, wafatnya pun muncul berbagai pendapat. Ia diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 970-990 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=621&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-622" title="vest-malabar1-300x239" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/vest-malabar1-300x239.jpg?w=300&#038;h=239" alt="vest-malabar1-300x239" width="300" height="239" />Tak banyak riwayat yang menjelaskan ketokohan dari <span style="font-weight:bold;">Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al-Malibari</span>, ulama asal Malabar, India Selatan ini. Kalau ada, itu hanya sebatas mengungkapkan keterangannya dalam berbagai karya yang ditulisnya.</p>
<p>Tak diketahui secara persis, kapan Syekh Zainuddin Al-Malibari lahir. Bahkan, wafatnya pun muncul berbagai pendapat. Ia diperkirakan meninggal dunia sekitar tahun 970-990 H dan di makamkan di pinggiran kora Ponani, India.</p>
<p><span id="more-621"></span>Syekh Zainuddin Al-Malibari merupakan keturunan bangsa Arab. Ia dikenal pula dengan nama Makhdum Thangal. Julukan ini dikaitkan dengan daerah tempat dirinya tinggal. Ada yang menyebutny dengan nama Zainuddin Makhdum, atau Zainuddin Thangal atau Makhdum Thangal. Julukan ini mencerminkan keutamaan dan penghormatan masyarakat setempat kepada dirinya.</p>
<p>Masjid Agung Ponani atau Funani, adalah masjid Agung yang pertama kali dibangun oleh Makhdum Thangal. Ia termasuk seorang ulama yang mengikuti madzhab Syafi’i. Tidak seperti masjid masa kini, Masjid Agung Ponani ini menggabungkan arsitektur lokal dengan arsitektur Hindu. Hal ini dikarenakan, Islam masuk ke India yang dibawa oleh pedagang Arab yang datang melalui laut dan diterima oleh raja-raja Hindu setempat. Makam Syekh Zainuddin Al-Malibari terletak di samping masjid.</p>
<p>Tak hanya arsitektur masjid, masyarakat Muslim di India ini juga mengadopsi gaya bangunan, pakaian dan makanan dengan menyesuaikan pada kondisi yang ada.</p>
<p>Syekh Zainuddin Al-Malibari, selain dikenal sebagai ulama fikih, ia juga dikenal sebagai ahli tasawuf, sejarah dan sastra. Karyanya Fath al-Mu’in (Pintu Pertolongan), adalah syarah (komentar) atas kitab Qurrat al-Ayn Hidayat al-Azkiya ila Thariq al-Auliya, serta Irsyad Al-Ibad ila Sabili al-Rasyad, dan Tuhfat al-Mujahidin.</p>
<p>Seperti kebanyakan ulama lainnya, Syekh Zainuddin Al-Malibari juga dikenal sebagai ulama yang sangat tegas, kritis, konsisten, dan memiliki pendirian yang teguh. Ia pernah menjadi seorang hakim dan penasehat kerajaan, dan diplomat. (sya/republika)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/621/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/621/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=621&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/syekh-zainuddin-al-malibari-ulama-besar-dari-negeri-bollywood/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/vest-malabar1-300x239.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">vest-malabar1-300x239</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/habib-abdullah-bin-abdul-qadir-bilfaqih/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/habib-abdullah-bin-abdul-qadir-bilfaqih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 18:11:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alawiyyin]]></category>
		<category><![CDATA[Tokoh Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Habaib]]></category>
		<category><![CDATA[Habib]]></category>
		<category><![CDATA[Ulama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Ketika berziarah ke makam Rasulullah saw,  Habib Abdul Qadir Bilfaqih memanjatkan doa&#8217; kepada Allah swt agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai Ulama besar dan menjadi seorang Ahli Hadits. Beberapa bulan kemudian, doa&#8217; itu dikabulkan Allah swt. Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1355 H / 1935 M lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=616&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-617" title="Habib Abdullah balfaqih1" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-abdullah-balfaqih1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Habib Abdullah balfaqih1" width="225" height="300" />Ketika berziarah ke makam Rasulullah saw,  <strong>Habib Abdul Qadir Bilfaqih </strong>memanjatkan doa&#8217; kepada Allah swt agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai Ulama besar dan menjadi seorang Ahli Hadits.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, doa&#8217; itu dikabulkan Allah swt. Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1355 H / 1935 M lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Aqil, yang dikemudian diberi nama <strong>Abdullah</strong>.</p>
<p><span id="more-616"></span>Sesuai dengan doa&#8217; yang dipanjatkan di makam Rasulullah saw, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Qur&#8217;an.</p>
<p>Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun dan rajin.<br />
Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari Madrasah Ibtidaiyah hingga Tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal Jamaah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.</p>
<p>Sebagai murid, semangat belajarnya tinggi. Dengan tekun beliau menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, beliau pernah jatuh sakit. Meski begitu beliau tetap saja belajar. Barang kali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai Ahli Hadits.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-618" title="Habib Abdullah balfaqih2" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-abdullah-balfaqih2.jpg?w=150&#038;h=150" alt="Habib Abdullah balfaqih2" width="150" height="150" />Maka wajarlah jika dalam usia relative muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab Hadits Shoheh, yakni Shohihul Bukhari dan Shohihul Muslim, lengkap dengan sanad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt ( kitab Induk Hadits ), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi&#8217;i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Muwatha&#8217; karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmuzy, Al-Ma&#8217;ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dll.</p>
<p>Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu Musthalah Hadits, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits, berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits. Beliau juga menguasai Ilmu Jahr Ta&#8217;dil ( kriteria hadits yang diterima ) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqailany, Mizanut Ta&#8217;dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.</p>
<p>Selain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih beliau mempelajari kitab fiqih empat madzhab ( Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi&#8217;i, Hanbali ), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzadzab Imam Nawawi.</p>
<p>Setelah ayahandanya wafat pada 19 November 1962 ( 21 Jumadil Akhir 1382 H ), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh Pondok Pesantren, Mubaligh, maupun pengajar. Selain menjabat Direktur Lembaga pesantren Darul Hadits Malang, beliau juga memegang beberapa jabatan penting, baik di Pemerintahan maupun Lembaga Keagamaan, seperti Penasihat Menteri Kesejahteraan Rakyat, Mufti Lajnah Ifta Syafi&#8217;i dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Beliau juga sempat menggondol titel Doktor dan Profesor.</p>
<p><img class="alignleft size-medium wp-image-619" title="habib abdullah &amp; sayyid muhammad" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-abdullah-sayyid-muhammad.jpg?w=300&#038;h=200" alt="habib abdullah &amp; sayyid muhammad" width="300" height="200" />Sebagaimana ayahandanya, Habib Abdullah juga dikenal sebagai pendidik ulung. Mereka bak pinang dibelah dua, ama-sama sebagai pendidik, sama-sama menjadi suri teladan bagi para santri, dan ama-sama tokoh kharismatik yang bijak. Seperti ayahandanya, Habib Abdullah juga penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat dekat dengan para santri. Sebagai guru, beliau sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat tahajud, beliau selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingkap. Beliau selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang akit, beliau selalu memberikan obat. Dan jika sakitnya serius, beliau akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter.</p>
<p>Seperti halnya Ulama besar atau wali, pribadi Habib Abdullah mulia dan kharismatik, disiplin dalam menyikapi masalah hukum dan agama. Tanpa tawar-menawar, sikapnya selalu tegas : yang haq tetap dikatakannya haq, yang bathil tetap dikatakannya bathil.</p>
<p>Sikap konsisten untuk mengamalkan amar ma&#8217;ruf nahi munkar itu tidak saja ditunjukkan kepada umat, tapi juga kepada pemerintah. Pada setiap kesempatan hari besar islam atau hari nasional, Habib Abdullah selalu melancarkan saran dan kritik membangin-baik melalui pidato maupun tulisan.</p>
<p>Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain harian Merdeka, Surabaya post, Pelita, Bhirawa, Karya Darma, Berita Buana, Berita Yudha. Beliau jufa menulis di beberapa media luar negeri, seperti Al-Liwa&#8217;ul Islamy ( Mesir ), Al-Manhaj ( Arab Saudi ), At-Tadhammum ( Mesir ), Rabithathul Alam Al-Islamy ( Makkah ), Al-Arabi ( Makkah ), Al-Madinatul Munawaroh ( Madinah ).</p>
<p>Habib Abdulah wafat pada hari sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H ( 30 November 1991 ) dalam usia 56 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya memenuhi panggilan Allah swt. Setelah dishalatkan di Masjid Jami&#8217; Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang , Jawa Timur.<br />
<span style="font-size:x-small;"><br />
<span style="font-weight:bold;">Sumber :</span> Al-Kisah No.27 / Tahun IV / 27 Maret – 9 April 2006</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/616/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/616/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=616&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/habib-abdullah-bin-abdul-qadir-bilfaqih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-abdullah-balfaqih1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Habib Abdullah balfaqih1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-abdullah-balfaqih2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Habib Abdullah balfaqih2</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/habib-abdullah-sayyid-muhammad.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">habib abdullah &#38; sayyid muhammad</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Masjid Al Anwar, Angke</title>
		<link>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/masjid-al-anwar-angke/</link>
		<comments>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/masjid-al-anwar-angke/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 18:02:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>yarasulullah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Masjid Bersejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Masjid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://yarasulullah.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Kata angke menurut sejarawan Perancis Denys Lombard berasal dari kata Tionghoa yang berarti Riviere qui deborde yakni kali yang (suka) banjir. Di Jakarta Barat terdapat sebuah kali yang dinamakan Kali Angke yang dulunya memang sering banjir. Mungkin karena letaknya berada di dekat kali yang sering banjir tersebut, maka masjid yang memiliki nama resmi Masjid Al-Anwar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=611&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-612" title="Masjid Al Anwar" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/masjid-al-anwar.jpg?w=212&#038;h=153" alt="Masjid Al Anwar" width="212" height="153" />Kata <strong>angke</strong> menurut sejarawan Perancis Denys Lombard berasal dari kata Tionghoa yang berarti Riviere qui deborde yakni kali yang (suka) banjir. Di Jakarta Barat terdapat sebuah kali yang dinamakan Kali Angke yang dulunya memang sering banjir.</p>
<p>Mungkin karena letaknya berada di dekat kali yang sering banjir tersebut, maka masjid yang memiliki nama resmi <strong>Masjid Al-Anwar</strong> ini lebih populer di masyarakat dengan nama<strong> Masjid Angke.</strong></p>
<p><span id="more-611"></span>Masjid ini konon memang sering kebanjiran sehingga ketinggian lantai ruang shalat dinaikkan lima anak tangga dari lantai ruang luarnya. Namun, letak masjid ini sebenarnya menarik yakni berada di sekitar kampung warga etnis yang bersejarah baik bagi masyarakat Bali, Banten, dan terutama masyarakat Tionghoa.</p>
<p>Saat ini, bangunan masjid tua yang sangat menarik ini berlokasi di sebelah selatan Jalan Tubagus Angke (dahulu Bacherachts-gracht), Kampung Rawa Bebek, Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Berdasarkan sumber Oud Batavia karya Dr F Dehan, masjid didirikan pada hari Kamis, tanggal 26 Sya&#8217;ban 1174 H yang bertepatan dengan tanggal 2 April 1761 M oleh seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim dari Tartar yang bersuamikan orang Banten.</p>
<p>Menurut sejarawan Heuken dalam bukunya Historical Sights of Jakarta, kampung di sekitar Masjid Angke dulu disebut Kampung Goesti yang dihuni orang Bali di bawah pimpinan Kapten Goesti Ketut Badudu. Kampung tersebut didirikan tahun 1709. Banyak orang Bali tinggal di Batavia, sebagian dijual oleh raja mereka sebagai budak, yang lain masuk dinas militer karena begitu mahir menggunakan tombak, dan kelompok lain lagi datang dengan sukarela untuk bercocok padi. Selama puluhan tahun orang-orang Bali menjadi kelompok terbesar kedua dari antara penduduk Batavia (A Heuken SJ, 1997:166).</p>
<p>Selain orang-orang Bali, kampung sekitar masjid dulunya juga banyak dihuni masyarakat Banten dan etnis Tionghoa. Mereka pernah tinggal bersama di sini sejak peristiwa pembunuhan massal masyarakat keturunan Tionghoa oleh Belanda. Bahkan jika kita berkunjung ke tempat tersebut saat ini, akan kita lihat masih banyak warga etnis Tionghoa yang tinggal di perkampungan tersebut.</p>
<p>Sejarah pendirian masjid ini berkaitan erat dengan peristiwa di zaman Jenderal Adrian Valckenier (1737-1741), di mana beberapa kali terjadi ketegangan antara VOC dengan rakyat dan orang Tionghoa. Ketegangan memuncak pada tahun 1740 ketika orang-orang Tionghoa bersenjata menyusup dan menyerang Batavia. Karena kejadian ini, sang jenderal menjadi sangat marah dan memerintahkan untuk membunuhi orang-orang Tionghoa secara massal.</p>
<p>Namun, peristiwa ini diketahui Pemerintah Belanda sehingga sang jenderal dimintai pertanggungjawabannya dan dianggap sebagai gubernur jenderal tercela. Akibatnya, ia kemudian dipenjarakan Pemerintah Belanda pada tahun 1741. Dan tak lama kemudian sang jenderal pun akhirnya meninggal dunia.</p>
<p>Sewaktu terjadi pembunuhan massal itu, sebagian orang Tionghoa yang sempat bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam dari Banten, dan hidup bersama hingga tahun 1751. Mereka inilah yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1761 sebagai tempat beribadah dan markas para pejuang menentang penjajah Belanda. Masjid konon juga sering dipakai sebagai tempat perundingan para pejuang dari Banten dan Cirebon.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-613" title="Masjid Al Anwar2" src="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/masjid-al-anwar2.jpg?w=250&#038;h=240" alt="Masjid Al Anwar2" width="250" height="240" />Yang menarik dari penampilan masjid ini adalah langgam arsitekturnya yang merupakan perpaduan antara Jawa, Tionghoa dan Eropa. Langgam arsitektur Jawa dapat ditelusuri dari denah bangunan persegi, bentuk atap tumpang, dan sistem struktur saka guru. Bagaimanapun bentuk bangunan bujur sangkar dan atap tumpang seperti itu dengan jelas menunjukkan bentuk masjid tradisional Jawa. Termasuk sistem konstruksi empat saka guru di tengah ruang shalat yang menopang atap yang meskipun tidak menggunakan material kayu tetapi material beton/bata pada kolomnya, tetapi tetap memperlihatkan kesamaannya dengan sistem konstruksi masjid-masjid tradisional di Jawa.</p>
<p>Langgam Tionghoa dapat dilihat pada detail konstruksi pada skur atap bangunan yang mengingatkan pada skur bangunan Tionghoa atau klenteng. Skur kayu bertumpuk seperti ini memang merupakan pengaruh budaya Tionghoa yang juga banyak ditemukan di pantai utara Jawa antara abad ke-14 dan ke-18. Sedangkan bentuk dan detail pada ujung-ujung atap bangunan juga memperlihatkan langgam Tionghoa, meski ada yang berpendapat bahwa hal ini merupakan pengaruh seni bangunan Bali yakni punggel.</p>
<p>Sedangkan langgam Eropa dapat diamati terutama pada bukaan-bukaan seperti pintu, jendela dan lubang angin. Pintu-pintu di sini dicirikan dengan ukuran yang tinggi dan besar dan berdaun pintu ganda. Sedangkan jendelanya juga besar dan lebar-lebar, namun jeruji kayu ulir sebagai pengisi jendela seperti itu lebih menampakkan kemiripan dengan jendela khas rumah tradisional Betawi dan umum dipakai pada masjid-masjid kuno di Jakarta yang dibangun pada sekitar abad ke-18.</p>
<p>Masjid yang berbentuk bangunan tunggal dan kini menempati lahan seluas kurang lebih 500 m2 ini memiliki banyak elemen menarik. Elemen masjid yang paling unik yang dijumpai pada masjid ini adalah elemen Mimbar. Sebuah tempat khutbah berbentuk ceruk yang mirip seni sculpture tersebut menjadi aksen penting di dalam ruang shalat. Hiasan pada kiri dan kanan cerukan ini sangat serasi dengan tangga-tangga melingkar dari material marmer berwarna merah yang menuju ke kursi mimbar. Pola hiasan ini kembali diulang pada pengapit setiap pintu masuk terutama pada pintu utama (timur), yang diberi bingkai ukiran kayu. Bentuk mimbar memang sangat unik yang jarang dijumpai pada masjid-masjid lainnya di Jawa.</p>
<p>Selain itu, elemen ragam hias juga menjadi daya tarik tersendiri pada masjid yang pernah diperbaiki beberapa kali namun tetap menunjukkan ciri khasnya ini. Beberapa ragam hias yang menarik di antaranya adalah detail ukiran kayu corak floral natural dan kaligrafi pada kusen atau pintu utama, anak-anak tangga pintu masuk utama yang terbuat dari batu-batu candi berwarna merah, hiasan pada kanan dan kiri cerukan mimbar, dan hiasan pipit gantil pada setiap ujung atap bangunan masjid. Yang disebut terakhir ini sekilas nampak seperti ornamen &#8220;emprit gantil&#8221; pada konstruksi rumah-rumah tinggal di Jawa namun jika dilihat detailnya dengan jelas memperlihatkan sentuhan langgam Tionghoa.</p>
<p><strong>Arsitek Unik</strong></p>
<p>Dari segi penggunaan ruang, masjid juga memiliki keunikan yakni sudah terdapatnya semacam mezanin yang memanfaatkan ruang di bawah atap tumpukan. Mezanin yang bisa dicapai dari anak tangga di sebelah timur salah satu kolom saka guru ini konon dulunya dipakai untuk mengumandangkan adzan, itikaf dan tempat pertemuan-pertemuan penting. Mezanin seperti ini juga terdapat di Masjid Al-Mansyur di Jalan Sawah Lio Jakarta Barat yang telah berdiri sejak tahun 1717.</p>
<p>Di dekat masjid terdapat makam putra Sultan Pontianak Pangeran Hamid Al-Qadri yang dibuang ke Batavia pada masa Pemerintahan Hindia Belanda karena mengadakan pemberontakan pada sekitar tahun 1800-an. Makamnya terbuat dari batu pualam dan terdapat tulisan yang menyebutkan usia sultan yakni meninggal dunia dalam usia 64 tahun 35 hari. Ia meninggal pada tahun 1854. Namun nisan yang konon tertua adalah nisan Ny Chen, seorang wanita keturunan Tionghoa Muslim, dan kini disimpan di samping masjid.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/yarasulullah.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/yarasulullah.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=yarasulullah.wordpress.com&amp;blog=8624798&amp;post=611&amp;subd=yarasulullah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://yarasulullah.wordpress.com/2009/09/22/masjid-al-anwar-angke/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/46d5c1876cce32b8b575df7d44f40e1f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">yarasulullah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/masjid-al-anwar.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid Al Anwar</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://yarasulullah.files.wordpress.com/2009/09/masjid-al-anwar2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Masjid Al Anwar2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
